Seperti biasa, ia menuju warung kopi langganan di tikungan gang. Bang Oki sudah menyiapkan es kopi susu tanpa ia pesan. "Lembur lagi, Kir?" tanya Bang Oki sambil melipat koran bekas.
"Iya, Ki. Deadline laporan keuangan klien."
Kirana duduk di kursi plastik hijau, menyeruput kopinya cepat-cepat. Jarum jam di ponsel menunjukkan pukul 07.15. Ia harus sampai kantor sebelum 08.00. Dua puluh menit perjalanan dengan motor, lima belas menit jika nekat. Masih cukup.
Tapi kemudian ia melihatnya.
Sebuah stan kayu kecil berdiri di sudut gang yang biasanya kosong. Papan kayu bertuliskan: Tukar Waktu Anda dengan Uang di Sini. Proses Cepat, Halal, Aman.
Kirana mengerjapkan mata. Stan itu tidak mungkin ada kemarin. Tulisannya mengilap, seakan baru saja dicat.
"Bang, itu kapan munculnya?" tanya Kirana sambil mengacungkan ibu jari ke belakang.
Bang Oki mengangkat bahu. "Baru. Tadi subuh udah ada. Katanya sih startup baru."
"Startup?"
"Iya. Konsepnya gitu katanya. Kau jual waktu hidupmu—bukan buang-buang waktu, tapi beneran mengurangi umur. Dikasih uang. Banyak yang ikut tadi pagi. Mbak Atun jual tiga tahun dapat motor baru. Pak RT jual lima tahun buat biaya haji anaknya."
Kirana hampir tersedak. "Itu gila."
"Zaman sekarang, Kir. Mana ada yang gratis?" Bang Oki tersenyum tipis. "Nanti malam stan itu pindah ke daerah lain. Katanya sistemnya kayak flash sale."
Skuter matik Kirana melaju, tapi pikirannya tetap di stan kayu itu. Setengah jam kemudian ia sudah duduk di kursi kerjanya, memandangi tumpukan spreadsheet. Gajinya pas-pasan. Kontrakan naik bulan depan. Adiknya butuh uang sekolah dalam dua minggu.
Di layar ponsel, iklan stan itu muncul lagi dengan tagar #WaktuAdalahUang. Selebgram dengan jutaan pengikut sudah mempromosikannya. Kirana melihat seorang aktris menyatakan dengan bangga: Aku jual 10 tahun. Beli rumah impian untuk mama!
Tiga jam kemudian, lembur lagi. Teori akuntansi tidak berubah, tapi angka-angka mulai kabur di depan mata Kirana. Secangkir kopi kelima. Kantor mulai sepi. Jam menunjukkan pukul 22.00.
Ia ingat stan itu akan tutup tengah malam.
Skuter matiknya tanpa sadar membawanya kembali ke gang. Stan kayu itu masih ada, diterangi lampu bohlam kuning. Antreannya tidak panjang—hanya tiga orang. Seorang pria muda dengan kemeja lusuh tampak keluar sambil memegang amplop cokelat tebal. Matanya kosong, tapi bibirnya tersenyum.
"Masuk, Mbak," sapa petugas di balik stan. Perempuan muda, rambut diikat rapi, seragam kerah putih. Terlalu rapi untuk sebuah stan pinggir jalan. "Mau tanya-tanya dulu atau langsung?"
"Tanya," jawab Kirana, tenggorokannya tercekat.
"Sederhana. Kami beli waktu Anda. Kami catat, Anda masih punya sisa umur—menurut data medis dan genetik—sekitar 54 tahun lagi. Mau jual berapa? Minimal satu tahun, maksimal tiga puluh tahun. Bayar tunai, bebas pajak. Setelah transaksi, otomatis tanggal kematian Anda akan maju sesuai jumlah yang dijual. Jantung berhenti, tapi jujur saja: Anda tidak akan merasakan apa-apa. Hanya lompatan waktu."
"Kedengarannya seperti bunuh diri perlahan."
Petugas itu tersenyum. "Bunuh diri tidak menghasilkan uang, Mbak. Ini investasi. Uangnya bisa untuk keluarga."
Kirana membayangkan ibunya di kampung, yang setiap bulan telepon hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan. Adiknya yang lulus SMA dan ingin kuliah arsitektur karena suka menggambar rumah-rumah indah.
"Saya jual... tiga tahun."
Petugas mengangguk. Papan sentuh dikeluarkan, sidik jari Kirana dipindai. Beberapa data muncul: denyut jantung, tekanan darah, usia biologis. Kirana melihat angka sisa umurnya: 54 tahun 2 bulan 8 hari. Setelah transaksi, itu akan menjadi 51 tahun 2 bulan 8 hari.
"Tiga tahun," ulang petugas. "Satu tahun dihargai seratus dua puluh juta. Jadi total tiga ratus enam puluh juta. Setuju?"
Angka itu lima kali lipat tabungan Kirana saat ini.
"Setuju," ucapnya, lebih cepat dari yang ia rencanakan.
Ada sensasi aneh. Seperti ketika berlari terlalu kencang dan jantung berdebar tidak karuan, tapi tidak menyakitkan. Kemudian amplop cokelat disodorkan. Kirana tidak memeriksa isinya. Ia tahu jumlahnya pas. Teknologi ini terlalu sempurna untuk salah.
Di luar stan, ia berdiri sebentar. Langit malam Jakarta sama seperti biasanya. Lampu-lampu kota berkilau. Kirana merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya, tapi ia tidak bisa memberinya nama. Mungkin itu tiga tahun yang tadi masih ia miliki.
Setahun kemudian, Kirana lulus seleksi manajemen trainee di bank asing. Gajinya naik tiga kali lipat. Adiknya sudah semester dua di fakultas arsitektur favorit. Ibunya bisa berhenti berjualan gorengan karena Kirana rutin mengirim uang.
Tiga tahun setelah transaksi, di pagi yang sama ketika ia dulu menemukan stan kayu itu, Kirana terbangun tetapi dadanya terasa sangat berat. Ia jatuh di kamar mandinya. Wajahnya menghantam wastafel keramik, tetapi ia tidak merasakan sakit.
Di kamar itu, pukul 07.15, tepat tiga tahun setelah ia menjual sebagian hidupnya, jantung Kirana berhenti.
Dokter yang memeriksa kematiannya kemudian menulis: Penyebab: gagal jantung akut. Tercatat dalam rekam medis bahwa pasien dalam kondisi sehat tanpa riwayat penyakit kardiovaskular.
Bang Oki, yang mendengar kabar itu sore harinya, hanya menggeleng. Ia ingat pembicaraan mereka tiga tahun lalu di warung kopinya.
Di stan yang sudah tidak ada lagi di gang itu, di suatu tempat di server pusat perusahaan rintisan bernama Tempo—yang kantornya berlokasi di lantai 50 gedung pusat bisnis Jakarta—sebuah data terhapus secara otomatis: Kirana Wulandari, 26 tahun, sisa umur setelah transaksi: 0 hari. Status: Lunas.
Di aplikasi Tempo yang diunduh jutaan orang, notifikasi muncul untuk pengguna lain: Flash sale Season 4 akan segera tiba. Bersiaplah menukar hari esok Anda dengan hari ini.
Di luar sana, langit Jakarta kembali biru pucat. Seseorang sedang terburu-buru menuju kantor, berpikir tentang tagihan, mimpi, dan harga yang bersedia ia bayar.
