Tapi ternyata The Ghost Cat bukanlah cerita tentang kucing seram.
Buku ini justru akan membuat kalian tanpa sadar langsung mengusap lembut kucing peliharaan kalian sambil berpikir, “Suatu hari nanti… kamu akan pergi dengan caramu sendiri, ya?”
Mari kita bedah kenapa novel ini layak masuk daftar bacaan wajib pecinta hewan dan kisah bittersweet.
Di tahun 1902, seekor kucing jingga bernama Grimalkin meninggal di pangkuan tuannya, Eilidh.
Tapi – alih-alih pergi begitu saja – ia diberi 8 nyawa tambahan.
Bukan untuk hidup kembali, tapi untuk menjadi hantu pengamat selama 120 tahun.
Ia akan menyaksikan flat lamanya di Edinburgh berganti penghuni, era, dan rahasia.
Bayangkan menyaksikan orang yang kalian cintai pergi, lalu rumah itu dihuni orang asing selama satu abad.
Dan kalian hanya bisa diam, melihat, mengingat.
Kenapa Novel Ini Bikin Penasaran?
Karena...
1. Sudut pandangnya nggak biasa.
Grimalkin bukan manusia, bukan detektif, bukan pahlawan super.
Dia hanya kucing. Tapi matanya merekam semua:
canda tawa, tangis, kelahiran, kematian, dan rahasia paling gelap penghuni flat.
2. Perjalanan melintas waktu.
Dari awal abad 20 hingga pandemi COVID-19 (2022).
Penulis menyelipkan tokoh nyata seperti J.M. Barrie dan momen bersejarah dengan cara yang terasa natural dan tidak menggurui.
3. Satu misteri besar yang menggantung.
Mengapa Grimalkin masih terikat dengan flat itu?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Eilidh setelah kematian sang kucing?
Dan bisakah hantu benar-benar menyelamatkan nyawa di akhir cerita?
Disclaimer, disini ada spoiler sedikit.
Di penghujung cerita, Grimalkin melakukan satu hal yang tidak pernah ia lakukan selama 120 tahun menjadi hantu:
Menjadi nyata kembali.
Sejenak.
Untuk menyelamatkan seorang balita yang hampir jatuh dari jendela lantai atas.
Dan setelah itu… dia menghilang.
Tapi bukan ke dalam ketiadaan.
Ia melihat cahaya hangat di kejauhan.
Dan di sana, Eilidh tersenyum, menunggu.
Akhir yang membuat kalian menangis, tapi tersenyum pada saat yang sama.
Menurutku penulis ingin menulis dengan secara hangat, sedikit diselipkan kelucuan, tapi fokus pada inti yang saat itu dibutuhkan.
Dialog minim, deskripsi dominan – persis seperti sudut pandang kucing yang banyak mengamati.
Setiap bab terasa seperti potongan kenangan yang jika disusun, membentuk satu lukisan besar tentang kesetiaan.
Kalian Wajib Baca Jika…
· ✔️ Pernah merasa kehilangan hewan peliharaan dan bertanya-tanya, “Apakah dia masih di sini?”
· ✔️ Suka film A Man Called Ove (buku atau filmnya, sama-sama bikin terharu)
· ✔️ Tidak takut menangis di halaman terakhir
· ✔️ Percaya bahwa cinta sejati tidak selalu butuh bentuk fisik
