Jumat, 05 Juni 2026

"Hidup Lebih Lama atau Hidup Bermakna?" Ini yang Aku Pelajari dari Buku 'Jika Kucing Lenyap dari Dunia'

 
 
Photo by me 


“Andai aku bisa hidup lebih lama, apa pun aku rela." 

Pernah enggak sih kalian mikir kayak di atas? 

Tapi... beneran rela? Termasuk kalau harus kehilangan sesuatu yang sangat kalian sayang?  

Cerita berfokus pada seorang pemuda yang disebut "Aku" (sengaja tidak diberi nama). Dia adalah tukang pos berusia 30 tahun, penyendiri, dan memiliki hubungan yang renggang dengan ayahnya. Satu-satunya teman setianya adalah kucingnya, bernama Kubis, yang diwariskan dari mendiang ibunya.

Suatu hari, "Aku" didiagnosis menderita tumor otak stadium akhir dan dinyatakan hanya memiliki waktu hidup yang sangat singkat. Dalam peliknya, ia didatangi oleh iblis aneh bernama Aloha, yang berwajah mirip dirinya dan berpakaian warna-warni. Aloha memberinya tawaran kontroversial: 


“Hapus satu benda dari dunia, hidupmu akan diperpanjang satu hari.” 


Setiap "Aku" mau menghilangkan satu benda dari dunia, maka hidupnya akan diperpanjang satu hari. Namun, benda yang harus dihilangkan tidak bisa ia pilih, melainkan ditentukan oleh Aloha, dan berhubungan dengan kenangan yang berharga.

Kedengarannya mudah? Enggak juga. Soalnya, benda yang harus dihapus ditentukan oleh si iblis, dan biasanya benda itu punya kenangan mendalam dalam hidup "Aku". 


Di sinilah "Aku" dihadapkan pada pilihan paling berat dalam hidupnya:

· Kalau setuju → hidup sehari lebih panjang, tapi kehilangan Kubis, teman satu-satunya.

· Kalau tidak setuju → mati, tapi cinta dan makna yang diwakili Kubis tetap utuh.

Dan dia memilih TIDAK SETUJU.

Dia sadar, Kubis bukan sekadar hewan peliharaan. Kubis adalah kenangan terakhir dari ibunya, dan jembatan yang diam-diam menghubungkannya dengan ayah yang sudah lama renggang.


“Lebih baik mati dengan hati penuh cinta, daripada hidup lama tapi hampa.” 


"Aku" awalnya menyetujui perjanjian itu. Benda-benda berharga mulai lenyap satu per satu:

1. Telepon: Lenyapnya telepon memutus hubungan "Aku" dengan kenangan dan mantan kekasihnya.

2. Film: Hal ini membuatnya kehilangan momen-momen berharga yang pernah ia tonton bersama ibunya semasa hidup.

3. Jam: Kehilangan kemampuan untuk mengukur waktu, ia mulai merenungkan setiap detik kehidupan yang tak ternilai.


Puncaknya adalah pada hari keempat, Aloha memintanya untuk menghilangkan kucing, atau tepatnya, semua kucing dari dunia sebagai syarat untuk memperpanjang hidupnya. Di sinilah "Aku" sadar, Kubis bukan sekadar hewan peliharaan. Kubis adalah perwujudan cinta kasih ibunya, dan satu-satunya penghubung yang tersisa dengannya serta dengan ayahnya yang telah jauh. 


Tokoh utama akhirnya sadar. Ia lebih rela mati daripada kehilangan makna cinta yang diwakili oleh Kubis. Ia menolak perjanjian iblis itu.

Setelah itu, sisa hidupnya yang pendek ia gunakan untuk berdamai dengan ayahnya—sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.

Apakah dia akhirnya mati?

Cerita ini tidak menjelaskan secara jelas. Endingnya terbuka, artinya kalian bisa menebaknya dengan cara kalian sendiri. Yang jelas, dia memilih untuk hidup penuh cinta meskipun singkat, daripada hidup panjang tapi hampa. 


👍 Kelebihan


1. Bahasa sederhana, mengalir, dan mudah dicerna – Cocok banget buat yang malas baca buku tebal atau berat.

2. Premis unik – Tawaran iblis yang terdengar menguntungkan ternyata jebakan. Membuat kita bertanya: "Relakah aku kehilangan sesuatu yang berharga demi hidup sehari lebih lama?"

3. Penghayatan karakter yang kuat – Tokoh utama terasa manusiawi: egois, takut mati, tapi akhirnya belajar ikhlas.

4. Bikin nangis (plus point) – Bab terakhir tentang kucing dijamin bikin mata berkaca-kaca.

5. Ending terbuka yang membekas – Tidak memberi jawaban instan, tapi justru mengajak pembaca mencari maknanya sendiri.


👎 Kekurangan 


1. Alur sedikit lambat di bagian tengah – Terutama saat menjelaskan kenangan tentang telepon dan film. Beberapa pembaca mungkin merasa bosan.

2. Karakter iblis Aloha kurang dieksplorasi – Sayangnya, latar belakang iblis ini tidak dijelaskan. Kenapa dia mirip tokoh utama? Tidak ada jawaban.

3. Tidak cocok untuk yang suka plot twist dramatis – Ceritanya lebih ke kontemplatif dan emosional, bukan aksi atau misteri. 


Pesan yang Bisa Dipetik:


· Kadang kita terlalu sibuk mengejar "hidup lebih lama" sampai lupa menghargai hal-hal kecil yang membuat hidup terasa berarti.

· Kucing, hewan peliharaan, atau orang terkasih—bukan sekadar teman, tapi bagian dari jiwa kita.

· Lebih baik hidup sebentar tapi penuh cinta, daripada hidup lama tapi semua yang kita sayang lenyap.  

 

Kalau kalian jadi tokoh utama, relakah kalian menghilangkan sesuatu yang kalian sayangi cuma demi hidup lebih lama sehari? 😺

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar