Photo by me
Guys, aku baru tau kalo buku ini mungkin agak telat sedikit untuk aku hype kembali dan karena baru selesai baca buku ini yang akhirnya sampe speechless sendiri.
Ini akan jadi sedikit mengupas isi buku ini. Dimulai dari premis tentunya.
Sebelum lanjut, disclaimer dulu ya.
Review ini Bebas Spoiler Gede. Jadi tenang aja, guys. Di review ini akan kasih clue-clue kecil yang justru bikin kalian makin penasaran, bukan merusak kejutan.
Oke, mulai.
Seorang guru SMP yang pendiam dan keliatan biasa aja, Yuko Moriguchi namanya, berdiri di depan kelas di hari terakhir tahun ajaran.
Bukan untuk mengucapkan Selamat Berlibur, tapi justru untuk mengundurkan diri.
Alasannya: Putri kecilnya yang berusia 4 tahun, Manami, baru saja meninggal tenggelam di kolam renang sekolah.
Semua orang mengira itu kecelakaan.
Tapi Bu Yuko tersenyum tipis.
Lalu dia bilang:
"Manami tidak mati karena kecelakaan. Dia dibunuh oleh dua murid di kelas ini."
Dan apa yang terjadi? Semua murid langsung diem.
Dia kasih kode "A" dan "B" untuk kedua pelaku. Tanpa menyebut nama di depan umum. Tapi pelan-pelan dia bongkar semuanya.
Bagaimana caranya. Di mana. Kapan. Bahkan motifnya.
Dan ternyata, motif itu lebih aneh dan lebih seram daripada yang kalian bayangkan.
Tapi, itu belum seberapa.
Karena di akhir pidatonya, Bu Yuko bilang sesuatu. Sesuatu itu yang mengubah seluruh kelas itu selamanya.
Lalu dia pergi. Meninggalkan kelas yang tidak akan pernah sama lagi.
Itu baru di halaman-halaman pertama.
Gila, kan?
Lanjut.
Isi cerita (Tanpa Spoiler)
So, sebenarnya buku Confession ini dari awal pun sudah tahu dari awal siapa "A" dan "B". Lalu apa yang membuat kalian terus membaca?
Pertanyaan besarnya adalah: Apa yang akan dilakukan seorang ibu ketika dia sadar bahwa hukum tidak bisa menyentuh anak-anak yang membunuh putrinya? karena di Jepang, anak di bawah umur dilindungi oleh undang-undang. Mereka tidak bisa dihukum berat.
Maka Bu Yuko memutuskan untuk menghukum dengan caranya sendiri.
Dan caranya... tidak ada yang menyangka. Dia tidak memukul. Tidak menyiksa secara fisik. Bahkan dia tidak pernah menyentuh kedua muridnya itu.
Tapi yang dia lakukan justru lebih menakutkan dari kekerasan fisik.
Cerita dalam buku ini dibagi menjadi beberapa bab. Setiap bab dari sudut pandang orang yang berbeda:
- Bu Yuko sendiri (di bab pertama)
- Seorang murid lain di kelas itu
- Ibu dari si "B"
- Si "B"
- Si "A"
Setiap kali ganti sudut pandang, kamu akan menemukan fakta baru yang membuatmu tercengang. Yang awalnya kamu pikir si A jahat, ternyata oh ternyata... Bagian ini gak akan diceritain ya, karena sudah masuk spoiler. Pokoknya banyak lapisan yang perlahan akan terkuak.
Yang bikin buku ini semakin bikin penasaran adalah penulis terus membuat para pembacanya semakin ragu.
Siapa sebenarnya yang paling salah? Apakah si A yang merencanakan? Si B yang fomo? Atau Bu Yuko sendiri?
Karena di tengah cerita, kalian pasti akan bertanya-tanya. Apakah seorang ibu yang "hanya" ingin balas dendam bisa berubah menjadi monster? Apakah ada batasan yang tidak boleh dilanggar, bahkan demi keadilan?
Dan yang lebih menyeramkannya lagi, apakah Bu Yuko benar-benar hanya seorang korban?
Yang Bikin Buku Ini Beda dari Novel Lain
Banyak novel thriller yang ceritanya tentang pembunuhan. Tapi Confessions beda. Kenapa?
Pertama, karena tidak ada misteri "siapa pelakunya".
Biasanya kita baca detektif buat cari tau siapa yang salah. Di sini, kamu sudah tau dari awal. Jadi, rasa penasarannya bergeser. Kalian bukan penasaran siapa, tapi penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan itu justru bikin kalian lebih tidak bisa berhenti membaca.
Kedua, karena sudut pandangnya berganti-ganti. Kalian akan mendengar cerita dari pihak yang berbeda. Kadang kalian merasa kasihan sama si A. Lalu di bab berikutnya, kalian akan benci sama dia. Kadang kamu mendukung Bu Yuko. Lalu di bab lain, kalian bergidik dengan caranya. Buku ini benar-benar mainin emosi para pembacanya.
Kelebihan dan Kekurangan (versi jujur)
Kelebihan:
- Tebalnya tipis: Cuma sekitar 200 an halaman. Bisa dihabiskan dalam sekali duduk, misalnya pas weekend atau di perjalanan.
- Langsung ke inti: Tidak ada bab yang terasa buang-buang waktu. Halaman pertama sudah pasti bikin ngebatin "woah".
- Plot twist yang tidak terduga: Bukan twist yang murahan. Twistnya bikin kalian balik lagi ke halaman awal dan bilang, "Oh, ternyata dari awal sudah dikasih tau ya?"
- Membuat kalian berpikir: Setelah selesai baca, kalian tidak bisa langsung membiarkan cerita dalam buku begitu saja. Kepala kalian akan terus bertanya-tanya memikirkan pertanyaan-pertanyaan moral. Apakah balas dendam bisa dibenarkan? Apakah anak seusia itu bisa benar-benar jahat? Apakah korban bisa berubah menjadi pelaku?
Kekurangan:
- Tidak untuk yang suka cerita ringan
- Membuat kalian kesal. Jujur, ada di beberapa bagian kalian akan merasa jengkel dengan tingkah laku karakter-karakternya. Tapi mungkin itu justru tujuannya.
- Tidak ada karakter yang benar-benar "baik". Semua orang di buku ini punya sisi gelap. Jika kalian tipe pembaca yang butuh pahlawan putih bersih, buku ini tidak. Justru akan membuat kalian frustrasi.
Kesimpulan: Layak Dibaca atau Tidak?
Sangat layak.
Confessions adalah salah satu novel thriller psikologis terbaik yang pernah aku baca. Karena cara penyampaiannya yang dingin, kejam, dan tanpa ampun.
Buku ini cocok untuk kalian yang:
- Suka cerita dengan banyak sudut pandang
- Tidak takut dengan tema-tema yang gelap (kematian anak, balas dendam, psikopat anak-anak)
- Ingin membaca sesuatu yang membuat kalian merenung berhari-hari setelah selesai.
Buku -ini tidak cocok untuk kalian yang:
- Mencari bacaan yang ringan dan menghibur
- Tidak suka cerita tentang anak-anak yang jahat
- Mudah terganggu dengan tema kekerasan terhadap anak
Rating
4.5/5
Confessions itu seperti kaca pembesar yang ditaruh di atas bagian paling gelap dari jiwa manusia. Di dalamnya ada rasa sakit karena kehilangan, ada amarah yang membara, ada rasa bersalah yang menggerogoti, dan ada keinginan balas dendam yang begitu kuat sehingga bisa mengubah orang paling penyayang sekalipun menjadi monster.
Setelah membaca buku ini, kalian akan berpikir ulang tentang beberapa hal:
- Apakah anak-anak selalu polos?
- Apakah keadilan selalu berpihak pada yang benar?
- Apakah seorang korban berhak melakukan apa pun untuk membalas dendam?
Dan mungkin, pertanyaan terpenting:
Siapa sebenarnya yang lebih menakutkan: pembunuh yang membunuh secara fisik, atau seorang ibu yang membunuh perlahan-lahan dari dari dalam?
Sudah baca Confessions? Atau baru mau baca?
Sampai jumpa di review buku berikutnya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar