Senin, 18 Mei 2026

Book review Artemis on x 13/05/26

 
Photo by me 



 Here's the review... 

Rating 4,5 🌜 

Dimulai dari Premis dulu ya. 

Di bulan, ada kota bernama Artemis—satu-satunya pemukiman manusia di luar Bumi. Di sana tinggal Jazz Bashara, seorang pemandu wisata berusia 20-an yang juga penyelundup gelap. 

Hidupnya pas-pasan, tapi ambisinya besar. Suatu hari, seorang pengusaha kaya menawari Jazz pekerjaan ilegal dg bayaran sangat tinggi: menyabotase operasi pabrik aluminium milik saingan bisnisnya. Tugasnya terlihat sederhana—cukup merusak beberapa mesin dari dalam. 

Tapi begitu rencana dimulai, semuanya meledak di luar kendali. Jazz mendapati dirinya terperangkap dalam konspirasi yang mengancam akan menghancurkan seluruh kota Artemis, dan satu-satunya yang bisa menghentikannya adalah… yah, Jazz sendiri—meskipun dia jelas bukan tipe pahlawan. 

Masuk ke isi ceritanya ya dan tanpa spoiler gede hehehe. 

Cerita mengikuti Jazz saat dia merancang dan menjalankan operasi sabotase di fasilitas milik perusahaan raksasa. Karena berlatar di bulan, setiap langkah harus mempertimbangkan gravitasi rendah, tekanan udara, ketersediaan oksigen, dan hukum fisika lainnya. Jazz memanfaatkan pengetahuannya tentang metalurgi, teknik kubah vakum, dan logistik koloni untuk menjalankan aksinya. 

Haduh pokoknya ni seru bgt dah klo dibahas dengan sains. Kalian yg pernah nonton the martian sblmnya pasti bisa ngerasain juga feeling ketika baca buku ini. 

Setelah sabotase berhasil, konflik justru membesar. Jazz menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekadar persaingan bisnis biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam: rahasia ekonomi Artemis, tekanan dari penguasa Bumi, serta taruhan hidup-mati bagi seluruh warga kota. Jazz harus bergerak cepat—menggabungkan keahliannya sebagai penyelundup, koneksi di kalangan bawah tanah, dan kecerdasan teknisnya—untuk membongkar kebenaran sebelum semuanya meledak. 

Artemis terasa nyata: ada pasar gelap, polisi korup, restoran, komunitas ekspatriat, sampai sistem daur ulang udara yang rumit. Membacanya seperti jalan-jalan ke kota futuristik yang kumuh tapi menawan. 

Plot yang cepat dan penuh surprise. Setiap kali Jazz punya rencana, pasti sesuatu gagal—dan dia harus berpikir ulang dengan cepat. Ini bikin buku susah dijelasin tapi bikin nagih. Seperti The Martian, penulis ngejelasin teknologi bulan dengan sangat detail tapi tetap mudah dipahami. Kalian klo baca buku ini akan belajar bagaimana peluru bekerja di gravitasi rendah, cara membobol kubah bertekanan, bahkan proses metalurgi—tanpa rasa bosan. 

Minus sedikit dalam buku ini untuk klimaks yang terasa terlalu cepat dan karakter pendukung yang kurang tergali. 

Sekian. 😃🌜 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar