Selasa, 28 April 2026

Satine Book Review on X 15/04/26


Finished! 

3/5⭐️ 

Kadang, orang yg paling kita cintai bukan yang paling bisa menyembuhkan kita. Tapi yang paling bersedia duduk diam di samping kita, meskipun kita belum sembuh. 

Sbnrnya premisnya menarik, tpi dari pertengahan smpe ke ending knpa begitu. Agak kecewa sih dikit. 

Yg gw tandai di buku ini adalah soal kontraknya itu bukan gimmick. Ini kritik pedas.

Awalnya mikir kontrak "teman kencan" itu hanya cara edgy untuk mempertemukan dua org. Tapi semakin baca, semakin sadar: kontrak itu adalah sindiran terhadap cara kita berkencan skrg. Ghosting. 

Situationship. Tanpa komitmen. Tanpa drama. Ya, kita ingin koneksi tanpa risiko sakit hati. Tapi Satine membuktikan: perasaan tidak pernah bisa dikontrak. Cinta tetap datang meskipun kita sudah memasang pagar beton sekalipun. (Anjay) 

Jujur, alurnya sering banget loncat-loncat waktu. Flashback ke 10 tahun lalu, lalu ke 3 bulan lalu, lalu ke minggu depan, balik lagi. Gw harus baca dua kali beberapa bab biar paham timeline-nya. Yapp ini bukan bacaan sambil lalu. Kalian harus fokus bacanya. 

Juga, beberapa monolog terasa terlalu panjang. Ada kalanya Satine atau Ash 'berkata-kata' dalam hati sampai satu halaman penuh. Cantik sih, tapi kadang bikin ingin teriak, "Ya udah ngomong langsung sama dia, jangan dipendem ih!" (Nada greget) wkwkwk. 

Ya untuk endingnya lumayan kebantu, walau ekspektasi gw pengennya sih itu ada penyelesaian karakternya di masa lalu tapi welldone udh gk penasaran lagi sama kisah Satine dan Ash hehehe.

Senin, 27 April 2026

Waktu yang Terjual

 



Mentari masih setinggi tiang bendera saat Kirana melangkah keluar dari apartemen susunnya. Langit Jakarta cerah, anehnya. Biasanya polutan membuatnya seperti susu cokelat encer, tapi hari ini biru pucat. Kirana tidak punya waktu untuk menikmatinya.

Seperti biasa, ia menuju warung kopi langganan di tikungan gang. Bang Oki sudah menyiapkan es kopi susu tanpa ia pesan. "Lembur lagi, Kir?" tanya Bang Oki sambil melipat koran bekas.

"Iya, Ki. Deadline laporan keuangan klien."

Kirana duduk di kursi plastik hijau, menyeruput kopinya cepat-cepat. Jarum jam di ponsel menunjukkan pukul 07.15. Ia harus sampai kantor sebelum 08.00. Dua puluh menit perjalanan dengan motor, lima belas menit jika nekat. Masih cukup.

Tapi kemudian ia melihatnya.

Sebuah stan kayu kecil berdiri di sudut gang yang biasanya kosong. Papan kayu bertuliskan: Tukar Waktu Anda dengan Uang di Sini. Proses Cepat, Halal, Aman.

Kirana mengerjapkan mata. Stan itu tidak mungkin ada kemarin. Tulisannya mengilap, seakan baru saja dicat.

"Bang, itu kapan munculnya?" tanya Kirana sambil mengacungkan ibu jari ke belakang.

Bang Oki mengangkat bahu. "Baru. Tadi subuh udah ada. Katanya sih startup baru."

"Startup?"

"Iya. Konsepnya gitu katanya. Kau jual waktu hidupmu—bukan buang-buang waktu, tapi beneran mengurangi umur. Dikasih uang. Banyak yang ikut tadi pagi. Mbak Atun jual tiga tahun dapat motor baru. Pak RT jual lima tahun buat biaya haji anaknya."

Kirana hampir tersedak. "Itu gila."

"Zaman sekarang, Kir. Mana ada yang gratis?" Bang Oki tersenyum tipis. "Nanti malam stan itu pindah ke daerah lain. Katanya sistemnya kayak flash sale."


Skuter matik Kirana melaju, tapi pikirannya tetap di stan kayu itu. Setengah jam kemudian ia sudah duduk di kursi kerjanya, memandangi tumpukan spreadsheet. Gajinya pas-pasan. Kontrakan naik bulan depan. Adiknya butuh uang sekolah dalam dua minggu.

Di layar ponsel, iklan stan itu muncul lagi dengan tagar #WaktuAdalahUang. Selebgram dengan jutaan pengikut sudah mempromosikannya. Kirana melihat seorang aktris menyatakan dengan bangga: Aku jual 10 tahun. Beli rumah impian untuk mama!

Tiga jam kemudian, lembur lagi. Teori akuntansi tidak berubah, tapi angka-angka mulai kabur di depan mata Kirana. Secangkir kopi kelima. Kantor mulai sepi. Jam menunjukkan pukul 22.00.

Ia ingat stan itu akan tutup tengah malam.


Skuter matiknya tanpa sadar membawanya kembali ke gang. Stan kayu itu masih ada, diterangi lampu bohlam kuning. Antreannya tidak panjang—hanya tiga orang. Seorang pria muda dengan kemeja lusuh tampak keluar sambil memegang amplop cokelat tebal. Matanya kosong, tapi bibirnya tersenyum.

"Masuk, Mbak," sapa petugas di balik stan. Perempuan muda, rambut diikat rapi, seragam kerah putih. Terlalu rapi untuk sebuah stan pinggir jalan. "Mau tanya-tanya dulu atau langsung?"

"Tanya," jawab Kirana, tenggorokannya tercekat.

"Sederhana. Kami beli waktu Anda. Kami catat, Anda masih punya sisa umur—menurut data medis dan genetik—sekitar 54 tahun lagi. Mau jual berapa? Minimal satu tahun, maksimal tiga puluh tahun. Bayar tunai, bebas pajak. Setelah transaksi, otomatis tanggal kematian Anda akan maju sesuai jumlah yang dijual. Jantung berhenti, tapi jujur saja: Anda tidak akan merasakan apa-apa. Hanya lompatan waktu."

"Kedengarannya seperti bunuh diri perlahan."

Petugas itu tersenyum. "Bunuh diri tidak menghasilkan uang, Mbak. Ini investasi. Uangnya bisa untuk keluarga."

Kirana membayangkan ibunya di kampung, yang setiap bulan telepon hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan. Adiknya yang lulus SMA dan ingin kuliah arsitektur karena suka menggambar rumah-rumah indah.

"Saya jual... tiga tahun."

Petugas mengangguk. Papan sentuh dikeluarkan, sidik jari Kirana dipindai. Beberapa data muncul: denyut jantung, tekanan darah, usia biologis. Kirana melihat angka sisa umurnya: 54 tahun 2 bulan 8 hari. Setelah transaksi, itu akan menjadi 51 tahun 2 bulan 8 hari.

"Tiga tahun," ulang petugas. "Satu tahun dihargai seratus dua puluh juta. Jadi total tiga ratus enam puluh juta. Setuju?"

Angka itu lima kali lipat tabungan Kirana saat ini.

"Setuju," ucapnya, lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Ada sensasi aneh. Seperti ketika berlari terlalu kencang dan jantung berdebar tidak karuan, tapi tidak menyakitkan. Kemudian amplop cokelat disodorkan. Kirana tidak memeriksa isinya. Ia tahu jumlahnya pas. Teknologi ini terlalu sempurna untuk salah.

Di luar stan, ia berdiri sebentar. Langit malam Jakarta sama seperti biasanya. Lampu-lampu kota berkilau. Kirana merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya, tapi ia tidak bisa memberinya nama. Mungkin itu tiga tahun yang tadi masih ia miliki.


Setahun kemudian, Kirana lulus seleksi manajemen trainee di bank asing. Gajinya naik tiga kali lipat. Adiknya sudah semester dua di fakultas arsitektur favorit. Ibunya bisa berhenti berjualan gorengan karena Kirana rutin mengirim uang.

Tiga tahun setelah transaksi, di pagi yang sama ketika ia dulu menemukan stan kayu itu, Kirana terbangun tetapi dadanya terasa sangat berat. Ia jatuh di kamar mandinya. Wajahnya menghantam wastafel keramik, tetapi ia tidak merasakan sakit.


Di kamar itu, pukul 07.15, tepat tiga tahun setelah ia menjual sebagian hidupnya, jantung Kirana berhenti.

Dokter yang memeriksa kematiannya kemudian menulis: Penyebab: gagal jantung akut. Tercatat dalam rekam medis bahwa pasien dalam kondisi sehat tanpa riwayat penyakit kardiovaskular.

Bang Oki, yang mendengar kabar itu sore harinya, hanya menggeleng. Ia ingat pembicaraan mereka tiga tahun lalu di warung kopinya.


Di stan yang sudah tidak ada lagi di gang itu, di suatu tempat di server pusat perusahaan rintisan bernama Tempo—yang kantornya berlokasi di lantai 50 gedung pusat bisnis Jakarta—sebuah data terhapus secara otomatis: Kirana Wulandari, 26 tahun, sisa umur setelah transaksi: 0 hari. Status: Lunas.

Di aplikasi Tempo yang diunduh jutaan orang, notifikasi muncul untuk pengguna lain: Flash sale Season 4 akan segera tiba. Bersiaplah menukar hari esok Anda dengan hari ini.

Di luar sana, langit Jakarta kembali biru pucat. Seseorang sedang terburu-buru menuju kantor, berpikir tentang tagihan, mimpi, dan harga yang bersedia ia bayar.
 

Minggu, 13 Juli 2025

Kadang Aku Bertanya, Apa Aku Benar-Benar Bagian dari Mereka?

 


Aku gak pernah benar-benar berharap banyak. Cuma ingin sekadar diajak duduk bareng, makan bersama, atau sekadar ditanya, "Kamu mau ikut gak?" Tapi gak pernah ada.

Setiap kali mereka berkumpul, tertawa ramai, aku cuma jadi penonton. Diam di sudut kamar, pura-pura gak peduli padahal hati ini diam-diam menunggu... siapa tahu, ada yang ingat aku di sini.

Tapi sampai sekarang, gak pernah ada yang ingat. Gak pernah ada yang ngajak.

Lama-lama aku jadi mikir, apa aku ini sebegitu gak pentingnya? Atau mungkin... aku memang beban? Gak dianggap ada karena kehadiranku cuma bikin sumpek?

Lucunya, mereka sering bilang, "Kenapa di kamar terus? Gak mau gabung sama keluarga?" Padahal kapan aku pernah dikasih alasan buat merasa belong? Kapan aku pernah ditarik, dibilang, "Ayo makan bareng."

Aku muak sama kalimat klise itu. "Keluarga tetap keluarga." Omong kosong. Kalau keluarga aja gak pernah bikin aku merasa diterima, masih layak gak sih aku berharap?

Aku gak butuh banyak. Cuma pengakuan kecil bahwa aku ada. Bahwa aku bukan sekadar beban yang mereka tutupi dengan basa-basi.

Tapi sepertinya, harapan itu memang harus aku kubur sendiri.

Kamis, 05 Juni 2025

Review Buku LOVE FROM A TO Z- S.K ALI 08/05/25

 

 


''Tentang keajaiban, luka, dan cinta yang tumbuh perlahan.''


Kadang kita nggak nyangka, pertemuan yang kelihatannya kebetulan justru jadi titik balik dalam hidup. Begitulah kisah Zayneb dan Adam buatku. Dua remaja yang datang dari latar berbeda, tapi sama-sama menyimpan sesuatu: amarah yang meledak-ledak, dan kesedihan yang dipendam dalam-dalam.


Zayneb—cewek berhijab yang nggak takut ngomongin ketidakadilan. Ia penuh semangat, tapi juga letih karena terus harus melawan prasangka dan diskriminasi. Lalu ada Adam—cowok pendiam, manis, dan penuh luka diam-diam, baru tahu kalau dia punya penyakit multiple sclerosis, hal yang juga merenggut ibunya.


Buku ini bukan cuma tentang cinta (meskipun, ya, cintanya manis banget), tapi tentang menemukan seseorang yang bisa nerima kamu apa adanya. Tentang keberanian, tentang sakit yang nggak kelihatan, tentang agama dan identitas, dan tentang keluarga yang rapuh tapi tetap jadi rumah.


Aku suka banget format jurnalnya. Mereka berdua nulis “keajaiban dan keanehan” dari hari-hari mereka, dan lewat catatan itu kita bisa ngerti cara mereka melihat dunia—dan cara mereka mulai melihat satu sama lain.


Yang bikin buku ini beda adalah:


Cara S.K. Ali menggambarkan Muslim bukan dengan stereotype, tapi sebagai manusia yang kompleks dan kuat.


Adam dan penyakitnya ditulis dengan lembut, bukan untuk dikasihani, tapi untuk dipahami.

Dan cinta mereka—nggak instan, nggak drama, tapi tumbuh pelan-pelan di tengah luka dan keheningan.


--- 


Love from A to Z bukan cuma novel remaja biasa. Ini cerita tentang dua orang yang mencoba berdamai dengan diri sendiri dan dunia, lalu saling menemukan di tengah semua kekacauan itu. Bikin aku mikir, kadang cinta datang bukan untuk menyelamatkan kita, tapi untuk menemani kita melewati badai. 


https://app.thestorygraph.com/reviews/7316220f-7e38-40ab-9b3a-a8e1ffcaeb66

Review Buku SEGALA KEKASIH TENGAH MALAM 30/04/25

 

 

Honestly... kurang sreg di awal karena udah menduga dg gaya penulisannya Mieko Kawakami. Karena ceritanya yg slow banget, gk ada konflik besar atau drama yg heboh. Tapi, justru itulah banyak makna yg terselip. 

Mengisahkan Fuyuko seorang perempuan yang hidupnya bener2 sepi. Gak banyak interaksi, kerjaannya nyoreksi naskah, jalan sendirian, bahkan ulang tahun sendirian.  

Sebenarnya, Fuyuko sendiri kayak nyari tempat buat bisa ngerasa dihargai, cuma masalahnya dunia sekitar gak kasih ruang buat dia. 
Dan dia sampai ketemu dg beberapa orang, seperti Hijiri yg ngasih nasihat yg gk selalu bisa dipahami, dan Mitsutsuka yg selalu ada, meski bukan dg cara yg kita harapkan. Dan buku ini gk kasih solusi, gk ada happy ending ala film. 

Tapi, buku ini ngajarin soal jujur. Tentang betapa sulitnya nyari makna hidup di tengah rutinitas. Tentang keinginan u/ berubah, tapi gk tau mulai dari mana. Buku ini bukan u/ semua orang. Tapi, bagi yg pernah merasa asing di tengah keramaian, atau mempertanyakan makna hidup di antara rutinitas yg menjemukan, buku ini cocok buat nemenin kalian. 

Beberapa kutipan yang nyangkut banget: 


“Aku tidak takut sendirian. Aku takut menyadari bahwa aku sendirian.”

“Mungkin aku hanya ingin seseorang melihatku. Bukan karena aku istimewa. Tapi karena aku ada.” 


https://app.thestorygraph.com/reviews/df941692-521a-4765-9e29-460fb10b36fa 

Review buku Misteri Tujuh Lonceng- AGATHA CHRISTIE 26/04/25

 

 


Awalnya gw pikir ini cuma cerita iseng tentang anak-anak muda yang main prank jam weker di rumah besar Chimneys. Tapi ternyata... malah jadi kasus pembunuhan beneran!

Gerry Wade ditemukan mati dan kelihatannya kayak overdosis, tapi anehnya salah satu jam weker hilang. Dari situ, suasana mulai berubah: ada rahasia besar tersembunyi di balik kematian itu.


Pas Bundle Brent mulai menyelidiki, gw kira bakal ketemu dalang yang "kelihatan jahat". Tapi ternyata malah ketemu organisasi rahasia bertudung hitam, Seven Dials, yang justru... bukan musuh, tapi pihak yang benar!

Serius, plot twist-nya bener-bener mind blowing karena yang selama ini keliatan sopan, nasionalis, dan "penting" ternyata malah pengkhianat negara.


Apalagi pas tahu kenapa Gerry dibunuh dan kenapa Ronny Devereux ditembak, semua sambungannya bikin diem bentar, nahan napas. Kirain cuma main-main, ternyata konspirasi negara!

Agatha Christie beneran mainin ekspektasi pembaca di sini — bikin kita percaya sama yang salah dan curiga sama yang benar. Keren banget.


Ending-nya... puas dan ngakak tipis karena Bundle Brent juga tetap punya gaya blak-blakan yang lucu! 


Terus, ada fakta menarik dari buku ini. Salah satunya yg gw langsung searching di gugel. 

Ternyata, Seven Dials a/ nama asli kawasan di London, terkenal pada masa lali sebagai tmpt org2 miskin, Kriminal, dan tukang tipu. 


https://app.thestorygraph.com/reviews/9d8195a6-c1f7-4398-bcb2-026b6b2f0a7d

Review Buku Giie dan surat-surat yang Tersembunyi - Serie TEMPO 11/04/25

 

 

Buku ini membuat gw ngerasa seolah duduk di samping Gie, mendengarnya bercerita tentang dunia yang sering tak adil, cinta yang tak terucap, dan kesendirian yang menyayat.

Surat-suratnya bukan sekadar dokumen sejarah atau pemikiran politik—tapi juga potongan jiwa seorang manusia yang hidup dengan jujur. Gie bukan hanya seorang aktivis atau intelektual, ia juga pemuda yang rindu, takut, bahkan kadang ingin menyerah.

Membaca ini adalah pengalaman yang personal. Menyentuh, meresap, dan meninggalkan bekas.

Cocok untuk kalian yang sedang mencari bacaan reflektif, penuh renungan, dan ingin melihat sisi lain dari seorang tokoh besar.