Sabtu, 13 Juni 2026

Ketika Cinta Menyamar dalam Duka, dan Kebohongan Menjadi Pelukan Terakhir. Review Buku Naoko

 
photo by me 


"Aku hanya ingin ayah tetap bahagia. Jadi aku menjadi orang yang ayah cintai."
Jika kalian penggemar Keigo Higashino, besar kemungkinan kalian sudah akrab dengan nama-nama seperti The Devotion of Suspect X atau di buku yang lainnya. 

Tapi ada satu karyanya yang mungkin kurang populer, namun menyimpan kedalaman psikologis yang luar biasa: Naoko. 

Bukan tentang detektif jenius. Bukan tentang pembunuhan berantai yang rumit. Naoko adalah kisah tentang keluarga, kehilangan, dan satu kebohongan besar yang bertahan bertahun-tahun—demi cinta. 

Berkisahkan seorang ayah sekaligus suami bernama Heisuke, hidup bahagia bersama istri tercintanya, Naoko, dan putri kecil mereka, Monami. Kebahagiaan itu hancur dalam sekejap saat bus yang ditumpangi Naoko dan Monami jatuh ke jurang.


Naoko meninggal.


Monami selamat, tapi jatuh koma.


Namun saat Monami sadar, dia tidak berperilaku seperti anak kecil. Dia berbicara, tertawa, marah, bahkan mengingat kenangan, sebagai Naoko—istri Heisuke.

Sejak saat itu, Heisuke hidup dengan dilema paling absurd yang bisa dibayangkan. Secara fisik, dia tinggal bersama putrinya. Tapi secara mental dan emosional, dia hidup kembali bersama istrinya.

Atau benarkah begitu? 


Buat kalian yang sudah membaca beberapa novel Higashino, kalian pasti tahu ciri khasnya: plot rapi, detektif pintar, dan penyelesaian yang bikin kita langsung ngeh "Oh, ternyata!"


Tapi Naoko berbeda.


Tidak ada Detektif Kaga. Tidak ada Detektif Galileo. Yang ada hanyalah seorang suami yang bingung, seorang anak perempuan yang terjebak dalam tubuh ibunya—atau sebaliknya—dan misteri yang tidak bisa dipecahkan dengan logika forensik, melainkan dengan menyelami hati yang paling gelap.

Keigo seakan-akan berkata: "Kali ini, aku tidak akan kasih kamu pembunuhan. Aku akan kasih kamu satu pertanyaan yang lebih menakutkan: sampai mana seseorang rela berbohong untuk tidak kehilangan orang yang dicintainya?"


Meskipun bukan novel detektif, Naoko tetap menyimpan misteri khas Keigo Higashino. Ada dua lapis misteri yang berjalan beriringan:


1. Misteri Identitas: Siapa yang Ada di Dalam Tubuh Monami?

Apakah benar jiwa Naoko pindah ke tubuh putrinya? Atau itu sekadar trauma psikologis yang membuat Monami mengembangkan kepribadian ganda? Atau—mungkinkah Monami sadar sepenuhnya dan hanya berpura-pura?

Keigo Higashino menyebarkan petunjuk kecil dari bab ke bab. Sebuah kalimat yang janggal. Sebuah kebiasaan yang lupa. Sebuah reaksi yang terlalu dewasa—atau terlalu kekanak-kanakan. Kalian akan terus menebak, terus ragu, sampai 20 halaman terakhir.


2. Misteri Kecelakaan: Apakah Itu Murni Kecelakaan?

Polisi awalnya menyebut rem blong. Tapi penyelidikan lebih lanjut mengungkap sesuatu yang jauh lebih gelap: buku harian sopir bus, dendam lama, dan satu rencana bunuh diri massal.

Lapisan misteri ini memberikan rasa ketegangan ekstra di tengah drama keluarga yang pelan tapi mencekik.


Jujur, Naoko bukan bacaan yang nyaman.

Ada adegan-adegan yang membuat alis berkerut. Bagaimana perasaan seorang suami yang masih ingin bersikap romantis kepada "istrinya" yang kini berwujud gadis remaja? Bagaimana seorang ayah harus membatasi dirinya sendiri setiap hari?

Keigo tidak memberi jawaban moral yang bersih. Dia justru menunjukkan abu-abu kehidupan yang paling kelam.

Dan yang terberat dari semuanya: buku ini tidak berakhir bahagia. Setelah semua rahasia terungkap, tidak ada pelukan haru. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa cinta—dalam bentuknya yang paling egois sekaligus paling tulus—bisa menjadi racun yang sama kuatnya dengan obat. 


Keigo Higashino tetap setia dengan gaya tulisannya yang cair, sinematik, dan penuh dialog hidup. Kalian akan mudah membayangkan setiap adegan seperti menonton film Jepang yang lambat namun menghanyutkan.


Namun, perlu diingat: tempo cerita cenderung lambat di bagian tengah. Setelah premis kuat di awal dan sebelum klimaks di akhir, ada bagian investigasi dan rutinitas yang terasa sedikit berputar-putar. Tapi bagi yang sabar, itu justru menjadi ruang bernapas sebelum badai twist menerjang. 


Cocok untuk kalian yang:

· Menyukai drama psikologis dengan karakter kompleks

· Siap membaca cerita yang tidak memberi kenyamanan

· Mengagumi tulisan Keigo Higashino dan ingin melihat sisi lain dari kepiawaiannya


Tidak cocok untuk kalian yang:

· Mencari thriller penuh aksi atau pembunuhan misterius

· Menghindari cerita dengan ambiguitas moral hubungan ayah-anak

· Membutuhkan akhir yang hangat dan menenangkan. 


Dan menurutku novel Naoko ini adalah novel yang paling berani. Berani mengambil premis gila, berani membawa pembaca ke zona abu-abu yang tidak nyaman, dan berani mengakhiri cerita dengan luka yang tidak diobati.

Ini bukan tulisan Keigo Higashino yang kalian kenal dari The Devotion of Suspect X yang rapi dan jenius. Ini Keigo Higashino yang lebih mentah, lebih emosional, dan lebih menusuk tajam. 


Apakah aku merekomendasikannya?

Ya, jika kalian ingin membaca sesuatu yang membuat kalian bengong lama setelah selesai.

Apakah aku akan membacanya lagi?

Nggak. Cukup sekali saja. Dan itu sendiri adalah bentuk penghormatan terbesar untuk sebuah cerita. 


Rating 4,5⭐ 

Semua sudah tercakup dari originalitas konsep, kedalaman Karakter, penyusunan misteri, eksekusi twist, dan dampak emosional. 


Sekian. 

Senin, 08 Juni 2026

Review Buku "The Let Them Theory": Cuma Dua Kata Tapi Bisa Mengubah Hidupmu?

 
Photo by me 


Siapa sih yang nggak capek ngatur orang lain? atau pernah stres karena orang lain nggak sesuai harapan? 

Jujur aja, seberapa sering kalian merasa lelah karena:

· Pasangan nggak pernah bantuin bersih-bersih?

· Teman nggak balas chat padahal kalian baik banget sama dia?

· Atasan seenaknya ngasih tugas di luar jobdesc?

· Atau yang paling klasik: kalian sering overthinking karena postingan Instagram kalian sedikit like?


Tenang, kalian nggak sendirian. 


Cuma Dua Langkah, tapi Life-Changing banget. 

Buku The Let Them Theory dari Mel Robbins punya solusi sederhana. 

Judulnya simpel, isinya juga simpel. Tapi jangan salah, karena dari kesederhanaan ini justru yang bikin buku ini powerful banget.  


Buku ini cuma ngajarin dua hal doang:


1.  Let Them→ Biarin orang lain jadi diri mereka sendiri. Jangan kontrol.

2. Let Me → Fokus ke dirimu sendiri. Apa yang bisa kamu lakukan? 


Gampang banget kan? Tapi coba ingat-ingat, seberapa sering kita melakukan kebalikannya?


Kita sibuk ngatur pasangan biar berubah, sibuk ngatur teman biar setia, sibuk ngatur bos biar adil. Padahal... surrender to reality, kita nggak punya kendali atas orang lain. Yang bisa kita kendalikan cuma satu: respons kita.

Buku ini tebalnya 300+ halaman, dipecah jadi 20 bab. Iya 20 bab, tapi jangan khawatir ya, gaya nulisnya ringan banget, penulis juga nulisnya ya kayak sambil curhat aja gitu. Setiap bab dikasih contoh nyata dari kehidupan penulisnya sendiri. 


Aku kasih tau kelebihan dan kekurangan dari buku ini ya. 

Kelebihan Buku: 


1. Konsep Super Gampang Diingat

Dua kata: Let Them. Bahkan di saat stres berat, kalian bisa ngebatin dan ngomong dalam hati: "Udahlah, biarin aja." Langsung lega.


2. Contohnya Kehidupan Banget

Mel Robbins nggak cuma teoretikus. Dia cerita soal putrinya yang nggak mau diajak ngobrol, soal teman yang nggak ngundang dia ke pesta, sampai soal stres media sosial. Kalian bakal ngerasa, "Wah, pernah ngalamin juga nih."


3. Ada Latihan Praktis

Di akhir beberapa bab, ada pertanyaan reflektif atau tantangan kecil. Misalnya: "Coba minggu ini, praktikkan Let Them di satu situasi yang bikin kalian stres."


4. Relevan untuk Segala Aspek Hidup

Mulai dari rumah tangga, pertemanan, pekerjaan, sampai medsos—semua bisa disesuaikan. 


Kekurangan Buku 


1. Bukan Konsep Baru 100%

Kalau kalian udah familiar dengan Stoikisme atau psikologi locus of control, konsep ini terasa familiar banget. Malah terkesan "repackaging".


2. Agak Bertele-tele di Bagian Tengah

Bab 8-12 terasa agak lambat. Cerita personalnya berulang-ulang. Kalau kalian tipe pembaca yang langsung pengen ke inti, bagian ini bisa bikin sedikit bosan.


3. Agak Terlalu Optimis

Let Them kedengeran simpel, tapi di dunia nyata—misal menghadapi pasangan yang kasar atau atasan yang manipulatif—kita kadang butuh lebih dari sekadar "biarin". Buku ini kurang membahas situasi ekstrem yang butuh intervensi serius.


Siapa yang Wajib Baca Buku Ini?


· Kalian yang sering overthinking karena sikap atau ucapan orang lain.

· Kalian yang kelelahan secara emosional karena selalu jadi "polisi kehidupan" untuk pasangan, anak, atau teman.

· Kalian yang stres sama media sosial dan gampang FOMO.

· Kalian yang suka buku self-help dengan cerita dan contoh konkret, bukan teori kering. 


Contoh Praktik Let Them dalam Kehidupan Sehari-hari. 


Situasi biasanya aku nih dan versi sekarang pakai Let Them.

• Pasangan ninggalin handuk basah di kasur marah, ngomel, kesel Let them. Aku ambil & gantung tanpa komentar.

• Teman nggak balas chat Curhat ke orang lain, insecure Let them. Mungkin dia sibuk. Aku lanjut aktivitas.

• Komen negatif di medsos Balas debat, sakit hati Let them. Bisa hapus, blokir, atau biarin aja udah. 


Apakah Buku Ini Worth It?

Ya, terutama kalau kalian sedang merasa lelah secara emosional. Kadang kita memang butuh diingatkan: "Hei, kamu nggak perlu ngatur semua orang. Biarin aja. Fokus ke dirimu."


Buku ini harus dibaca pelan-pelan, satu bab per hari, sambil ngopi atau sebelum tidur. Jangan berharap jadi orang yang berubah total dalam semalam. Tapi kalau satu konsep ini benar-benar kalian praktikkan, hidup kalian bakal terasa jauh lebih ringan. 


Rating dari aku 4,5/5 ⭐ 

Sekian.



Jumat, 05 Juni 2026

"Hidup Lebih Lama atau Hidup Bermakna?" Ini yang Aku Pelajari dari Buku 'Jika Kucing Lenyap dari Dunia'

 
 
Photo by me 


“Andai aku bisa hidup lebih lama, apa pun aku rela." 

Pernah enggak sih kalian mikir kayak di atas? 

Tapi... beneran rela? Termasuk kalau harus kehilangan sesuatu yang sangat kalian sayang?  

Cerita berfokus pada seorang pemuda yang disebut "Aku" (sengaja tidak diberi nama). Dia adalah tukang pos berusia 30 tahun, penyendiri, dan memiliki hubungan yang renggang dengan ayahnya. Satu-satunya teman setianya adalah kucingnya, bernama Kubis, yang diwariskan dari mendiang ibunya.

Suatu hari, "Aku" didiagnosis menderita tumor otak stadium akhir dan dinyatakan hanya memiliki waktu hidup yang sangat singkat. Dalam peliknya, ia didatangi oleh iblis aneh bernama Aloha, yang berwajah mirip dirinya dan berpakaian warna-warni. Aloha memberinya tawaran kontroversial: 


“Hapus satu benda dari dunia, hidupmu akan diperpanjang satu hari.” 


Setiap "Aku" mau menghilangkan satu benda dari dunia, maka hidupnya akan diperpanjang satu hari. Namun, benda yang harus dihilangkan tidak bisa ia pilih, melainkan ditentukan oleh Aloha, dan berhubungan dengan kenangan yang berharga.

Kedengarannya mudah? Enggak juga. Soalnya, benda yang harus dihapus ditentukan oleh si iblis, dan biasanya benda itu punya kenangan mendalam dalam hidup "Aku". 


Di sinilah "Aku" dihadapkan pada pilihan paling berat dalam hidupnya:

· Kalau setuju → hidup sehari lebih panjang, tapi kehilangan Kubis, teman satu-satunya.

· Kalau tidak setuju → mati, tapi cinta dan makna yang diwakili Kubis tetap utuh.

Dan dia memilih TIDAK SETUJU.

Dia sadar, Kubis bukan sekadar hewan peliharaan. Kubis adalah kenangan terakhir dari ibunya, dan jembatan yang diam-diam menghubungkannya dengan ayah yang sudah lama renggang.


“Lebih baik mati dengan hati penuh cinta, daripada hidup lama tapi hampa.” 


"Aku" awalnya menyetujui perjanjian itu. Benda-benda berharga mulai lenyap satu per satu:

1. Telepon: Lenyapnya telepon memutus hubungan "Aku" dengan kenangan dan mantan kekasihnya.

2. Film: Hal ini membuatnya kehilangan momen-momen berharga yang pernah ia tonton bersama ibunya semasa hidup.

3. Jam: Kehilangan kemampuan untuk mengukur waktu, ia mulai merenungkan setiap detik kehidupan yang tak ternilai.


Puncaknya adalah pada hari keempat, Aloha memintanya untuk menghilangkan kucing, atau tepatnya, semua kucing dari dunia sebagai syarat untuk memperpanjang hidupnya. Di sinilah "Aku" sadar, Kubis bukan sekadar hewan peliharaan. Kubis adalah perwujudan cinta kasih ibunya, dan satu-satunya penghubung yang tersisa dengannya serta dengan ayahnya yang telah jauh. 


Tokoh utama akhirnya sadar. Ia lebih rela mati daripada kehilangan makna cinta yang diwakili oleh Kubis. Ia menolak perjanjian iblis itu.

Setelah itu, sisa hidupnya yang pendek ia gunakan untuk berdamai dengan ayahnya—sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.

Apakah dia akhirnya mati?

Cerita ini tidak menjelaskan secara jelas. Endingnya terbuka, artinya kalian bisa menebaknya dengan cara kalian sendiri. Yang jelas, dia memilih untuk hidup penuh cinta meskipun singkat, daripada hidup panjang tapi hampa. 


👍 Kelebihan


1. Bahasa sederhana, mengalir, dan mudah dicerna – Cocok banget buat yang malas baca buku tebal atau berat.

2. Premis unik – Tawaran iblis yang terdengar menguntungkan ternyata jebakan. Membuat kita bertanya: "Relakah aku kehilangan sesuatu yang berharga demi hidup sehari lebih lama?"

3. Penghayatan karakter yang kuat – Tokoh utama terasa manusiawi: egois, takut mati, tapi akhirnya belajar ikhlas.

4. Bikin nangis (plus point) – Bab terakhir tentang kucing dijamin bikin mata berkaca-kaca.

5. Ending terbuka yang membekas – Tidak memberi jawaban instan, tapi justru mengajak pembaca mencari maknanya sendiri.


👎 Kekurangan 


1. Alur sedikit lambat di bagian tengah – Terutama saat menjelaskan kenangan tentang telepon dan film. Beberapa pembaca mungkin merasa bosan.

2. Karakter iblis Aloha kurang dieksplorasi – Sayangnya, latar belakang iblis ini tidak dijelaskan. Kenapa dia mirip tokoh utama? Tidak ada jawaban.

3. Tidak cocok untuk yang suka plot twist dramatis – Ceritanya lebih ke kontemplatif dan emosional, bukan aksi atau misteri. 


Pesan yang Bisa Dipetik:


· Kadang kita terlalu sibuk mengejar "hidup lebih lama" sampai lupa menghargai hal-hal kecil yang membuat hidup terasa berarti.

· Kucing, hewan peliharaan, atau orang terkasih—bukan sekadar teman, tapi bagian dari jiwa kita.

· Lebih baik hidup sebentar tapi penuh cinta, daripada hidup lama tapi semua yang kita sayang lenyap.  

 

Kalau kalian jadi tokoh utama, relakah kalian menghilangkan sesuatu yang kalian sayangi cuma demi hidup lebih lama sehari? 😺

 

Senin, 01 Juni 2026

💔 120 Tahun Jadi Hantu Kucing, dan Satu Hal yang Tak Pernah Mati Review Blog – The Ghost Cat (Alex Howard)

 
Photo by me 


Kalian pernah dengar pepatah kuno bahwa kucing memiliki sembilan nyawa: tiga untuk 'tinggal', tiga untuk 'berkelana', dan tiga untuk 'bermain'. Grimalkin telah menghabiskan nyawa pertamanya untuk 'tinggal', dan sekarang ia harus menjalani delapan nyawa yang tersisa, bukan sebagai kucing biasa, melainkan sebagai roh penasaran yang melayang melintasi waktu.

Sekilas, buku ini seperti novel horor biasa… 

Tapi ternyata The Ghost Cat bukanlah cerita tentang kucing seram.

Buku ini justru akan membuat kalian tanpa sadar langsung mengusap lembut kucing peliharaan kalian sambil berpikir, “Suatu hari nanti… kamu akan pergi dengan caramu sendiri, ya?”

Mari kita bedah kenapa novel ini layak masuk daftar bacaan wajib pecinta hewan dan kisah bittersweet. 


Di tahun 1902, seekor kucing jingga bernama Grimalkin meninggal di pangkuan tuannya, Eilidh.


Tapi – alih-alih pergi begitu saja – ia diberi 8 nyawa tambahan.

Bukan untuk hidup kembali, tapi untuk menjadi hantu pengamat selama 120 tahun.

Ia akan menyaksikan flat lamanya di Edinburgh berganti penghuni, era, dan rahasia.


Bayangkan menyaksikan orang yang kalian cintai pergi, lalu rumah itu dihuni orang asing selama satu abad.

Dan kalian hanya bisa diam, melihat, mengingat. 


Kenapa Novel Ini Bikin Penasaran?

Karena... 


1. Sudut pandangnya nggak biasa.

Grimalkin bukan manusia, bukan detektif, bukan pahlawan super.

Dia hanya kucing. Tapi matanya merekam semua:

canda tawa, tangis, kelahiran, kematian, dan rahasia paling gelap penghuni flat.


2. Perjalanan melintas waktu.

Dari awal abad 20 hingga pandemi COVID-19 (2022).

Penulis menyelipkan tokoh nyata seperti J.M. Barrie dan momen bersejarah dengan cara yang terasa natural dan tidak menggurui.


3. Satu misteri besar yang menggantung.

Mengapa Grimalkin masih terikat dengan flat itu?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Eilidh setelah kematian sang kucing?

Dan bisakah hantu benar-benar menyelamatkan nyawa di akhir cerita? 


Disclaimer, disini ada spoiler sedikit.

Di penghujung cerita, Grimalkin melakukan satu hal yang tidak pernah ia lakukan selama 120 tahun menjadi hantu:

Menjadi nyata kembali.


Sejenak.


Untuk menyelamatkan seorang balita yang hampir jatuh dari jendela lantai atas.


Dan setelah itu… dia menghilang.

Tapi bukan ke dalam ketiadaan.

Ia melihat cahaya hangat di kejauhan.

Dan di sana, Eilidh tersenyum, menunggu.


Akhir yang membuat kalian menangis, tapi tersenyum pada saat yang sama. 


Menurutku penulis ingin menulis dengan secara hangat, sedikit diselipkan kelucuan, tapi fokus pada inti yang saat itu dibutuhkan.

Dialog minim, deskripsi dominan – persis seperti sudut pandang kucing yang banyak mengamati.

Setiap bab terasa seperti potongan kenangan yang jika disusun, membentuk satu lukisan besar tentang kesetiaan.


Kalian Wajib Baca Jika…


· ✔️ Pernah merasa kehilangan hewan peliharaan dan bertanya-tanya, “Apakah dia masih di sini?”

· ✔️ Suka film A Man Called Ove (buku atau filmnya, sama-sama bikin terharu)

· ✔️ Tidak takut menangis di halaman terakhir

· ✔️ Percaya bahwa cinta sejati tidak selalu butuh bentuk fisik 

 
The Ghost Cat adalah buku tentang kesetiaan, tentang waktu yang tak bisa dihentikan, dan tentang satu kucing tua yang memilih untuk tidak benar-benar pergi. 😭😭 

Rating: 4.5/5 ⭐

Yang dibutuhkan: 1 box tisu, tergantung seberapa dalam kalian mencintai hewan.


Real, cerita yang bikin kalian akan selalu memikirkan hewan peliharaan setiap hari. 

Selasa, 26 Mei 2026

Ketika Seorang Guru Menjadi Lebih Menakutkan dari Pembunuh: Review Buku Confessions (Kokuhaku) – Kanae Minato

 
Photo by me 

Guys, aku baru tau kalo buku ini mungkin agak telat sedikit untuk aku hype kembali dan karena baru selesai baca buku ini yang akhirnya sampe speechless sendiri.  

Ini akan jadi sedikit mengupas isi buku ini. Dimulai dari premis tentunya. 
Sebelum lanjut, disclaimer dulu ya. 
Review ini Bebas Spoiler Gede. Jadi tenang aja, guys. Di review ini akan kasih clue-clue kecil yang justru bikin kalian makin penasaran, bukan merusak kejutan. 

Oke, mulai. 

Seorang guru SMP yang pendiam dan keliatan biasa aja, Yuko Moriguchi namanya, berdiri di depan kelas di hari terakhir tahun ajaran. 
Bukan untuk mengucapkan Selamat Berlibur, tapi justru untuk mengundurkan diri. 
Alasannya: Putri kecilnya yang berusia 4 tahun, Manami, baru saja meninggal tenggelam di kolam renang sekolah. 

Semua orang mengira itu kecelakaan. 

Tapi Bu Yuko tersenyum tipis. 

Lalu dia bilang: 
"Manami tidak mati karena kecelakaan. Dia dibunuh oleh dua murid di kelas ini." 

Dan apa yang terjadi? Semua murid langsung diem. 

Dia kasih kode "A" dan "B" untuk kedua pelaku. Tanpa menyebut nama di depan umum. Tapi pelan-pelan dia bongkar semuanya. 
Bagaimana caranya. Di mana. Kapan. Bahkan motifnya. 

Dan ternyata, motif itu lebih aneh dan lebih seram daripada yang kalian bayangkan. 

Tapi, itu belum seberapa. 

Karena di akhir pidatonya, Bu Yuko bilang sesuatu. Sesuatu itu yang mengubah seluruh kelas itu selamanya. 

Lalu dia pergi. Meninggalkan kelas yang tidak akan pernah sama lagi. 

Itu baru di halaman-halaman pertama. 

Gila, kan? 

Lanjut. 

So, sebenarnya buku Confession ini dari awal pun sudah tahu dari awal siapa "A" dan "B". Lalu apa yang membuat kalian terus membaca? 

Pertanyaan besarnya adalah: Apa yang akan dilakukan seorang ibu ketika dia sadar bahwa hukum tidak bisa menyentuh anak-anak yang membunuh putrinya? karena di Jepang, anak di bawah umur dilindungi oleh undang-undang. Mereka tidak bisa dihukum berat. 

Maka Bu Yuko memutuskan untuk menghukum dengan caranya sendiri. 

Dan caranya... tidak ada yang menyangka. Dia tidak memukul. Tidak menyiksa secara fisik. Bahkan dia tidak pernah menyentuh kedua muridnya itu. 

Tapi yang dia lakukan justru lebih menakutkan dari kekerasan fisik. 

Cerita dalam buku ini dibagi menjadi beberapa bab. Setiap bab dari sudut pandang orang yang berbeda: 

  • Bu Yuko sendiri (di bab pertama) 
  • Seorang murid lain di kelas itu 
  • Ibu dari si "B" 
  • Si "B" 
  • Si "A" 
Setiap kali ganti sudut pandang, kamu akan menemukan fakta baru yang membuatmu tercengang. Yang awalnya kamu pikir si A jahat, ternyata oh ternyata... Bagian ini gak akan diceritain ya, karena sudah masuk spoiler. Pokoknya banyak lapisan yang perlahan akan terkuak. 

Yang bikin buku ini semakin bikin penasaran adalah penulis terus membuat para pembacanya semakin ragu. 
Siapa sebenarnya yang paling salah? Apakah si A yang merencanakan? Si B yang fomo? Atau Bu Yuko sendiri? 

Karena di tengah cerita, kalian pasti akan bertanya-tanya. Apakah seorang ibu yang "hanya" ingin balas dendam bisa berubah menjadi monster? Apakah ada batasan yang tidak boleh dilanggar, bahkan demi keadilan? 

Dan yang lebih menyeramkannya lagi, apakah Bu Yuko benar-benar hanya seorang korban? 

Banyak novel thriller yang ceritanya tentang pembunuhan. Tapi Confessions beda. Kenapa? 

Pertama, karena tidak ada misteri "siapa pelakunya". 
Biasanya kita baca detektif buat cari tau siapa yang salah. Di sini, kamu sudah tau dari awal. Jadi, rasa penasarannya bergeser. Kalian bukan penasaran siapa, tapi penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan itu justru bikin kalian lebih tidak bisa berhenti membaca.

Kedua, karena sudut pandangnya berganti-ganti. Kalian akan mendengar cerita dari pihak yang berbeda. Kadang kalian merasa kasihan sama si A. Lalu di bab berikutnya, kalian akan benci sama dia. Kadang kamu mendukung Bu Yuko. Lalu di bab lain, kalian bergidik dengan caranya. Buku ini benar-benar mainin emosi para pembacanya. 
 
Kelebihan
  • Tebalnya tipis: Cuma sekitar 200 an halaman. Bisa dihabiskan dalam sekali duduk, misalnya pas weekend atau di perjalanan. 
  • Langsung ke inti: Tidak ada bab  yang terasa buang-buang waktu. Halaman pertama sudah pasti bikin ngebatin "woah". 
  •  Plot twist yang tidak terduga: Bukan twist yang murahan. Twistnya bikin kalian balik lagi ke halaman awal dan bilang, "Oh, ternyata dari awal sudah dikasih tau ya?" 
  • Membuat kalian berpikir: Setelah selesai baca, kalian tidak bisa langsung membiarkan cerita dalam buku begitu saja. Kepala kalian akan terus bertanya-tanya memikirkan pertanyaan-pertanyaan moral. Apakah balas dendam bisa dibenarkan? Apakah anak seusia itu bisa benar-benar jahat? Apakah korban bisa berubah menjadi pelaku? 
Kekurangan: 

  • Tidak untuk yang suka cerita ringan 
  • Membuat kalian kesal. Jujur, ada di beberapa bagian kalian akan merasa jengkel dengan tingkah laku karakter-karakternya. Tapi mungkin itu justru tujuannya. 
  • Tidak ada karakter yang benar-benar "baik". Semua orang di buku ini punya sisi gelap. Jika kalian tipe pembaca yang butuh pahlawan putih bersih, buku ini tidak. Justru akan membuat kalian frustrasi. 

Layak Dibaca atau Tidak? 

Sangat layak. 

Confessions adalah salah satu novel thriller psikologis terbaik yang pernah aku baca. Karena cara penyampaiannya yang dingin, kejam, dan tanpa ampun. 

Buku ini cocok untuk kalian yang: 
  • Suka cerita dengan banyak sudut pandang 
  • Tidak takut dengan tema-tema yang gelap (kematian anak, balas dendam, psikopat anak-anak) 
  • Ingin membaca sesuatu yang membuat kalian  merenung berhari-hari setelah selesai. 
Buku -ini tidak cocok untuk kalian yang: 
  • Mencari bacaan yang ringan dan menghibur 
  • Tidak suka cerita tentang anak-anak yang jahat 
  • Mudah terganggu dengan tema kekerasan terhadap anak 

Rating 

4.5/5 

Confessions itu seperti kaca pembesar yang ditaruh di atas bagian paling gelap dari jiwa manusia. Di dalamnya ada rasa sakit karena kehilangan, ada amarah yang membara, ada rasa bersalah yang menggerogoti, dan ada keinginan balas dendam yang begitu kuat sehingga bisa mengubah orang paling penyayang sekalipun menjadi monster. 

Setelah membaca buku ini, kalian akan berpikir ulang tentang beberapa hal: 
  • Apakah anak-anak selalu polos? 
  • Apakah keadilan selalu berpihak pada yang benar? 
  • Apakah seorang korban berhak melakukan apa pun untuk membalas dendam? 
Dan mungkin, pertanyaan terpenting: 

Siapa sebenarnya yang lebih menakutkan: pembunuh yang membunuh secara fisik, atau seorang ibu yang membunuh perlahan-lahan dari dari dalam? 


Sudah baca Confessions? Atau baru mau baca? 

Sampai jumpa di review buku berikutnya! 







Senin, 18 Mei 2026

Kota di Bulan yang Penuh Konspirasi dan Aksi Kriminal. Review Buku "Artemis" – 13/05/26

 
Photo by me 



 Here's the review... 

Rating 4,5 🌜 

Dimulai dari Premis dulu ya. 

Di bulan, ada kota bernama Artemis—satu-satunya pemukiman manusia di luar Bumi. Di sana tinggal Jazz Bashara, seorang pemandu wisata berusia 20-an yang juga penyelundup gelap. 

Hidupnya pas-pasan, tapi ambisinya besar. Suatu hari, seorang pengusaha kaya menawari Jazz pekerjaan ilegal dg bayaran sangat tinggi: menyabotase operasi pabrik aluminium milik saingan bisnisnya. Tugasnya terlihat sederhana—cukup merusak beberapa mesin dari dalam. 

Tapi begitu rencana dimulai, semuanya meledak di luar kendali. Jazz mendapati dirinya terperangkap dalam konspirasi yang mengancam akan menghancurkan seluruh kota Artemis, dan satu-satunya yang bisa menghentikannya adalah… yah, Jazz sendiri—meskipun dia jelas bukan tipe pahlawan. 

Masuk ke isi ceritanya ya dan tanpa spoiler gede hehehe. 

Cerita mengikuti Jazz saat dia merancang dan menjalankan operasi sabotase di fasilitas milik perusahaan raksasa. Karena berlatar di bulan, setiap langkah harus mempertimbangkan gravitasi rendah, tekanan udara, ketersediaan oksigen, dan hukum fisika lainnya. Jazz memanfaatkan pengetahuannya tentang metalurgi, teknik kubah vakum, dan logistik koloni untuk menjalankan aksinya. 

Haduh pokoknya ni seru bgt dah klo dibahas dengan sains. Kalian yg pernah nonton the martian sblmnya pasti bisa ngerasain juga feeling ketika baca buku ini. 

Setelah sabotase berhasil, konflik justru membesar. Jazz menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekadar persaingan bisnis biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam: rahasia ekonomi Artemis, tekanan dari penguasa Bumi, serta taruhan hidup-mati bagi seluruh warga kota. Jazz harus bergerak cepat—menggabungkan keahliannya sebagai penyelundup, koneksi di kalangan bawah tanah, dan kecerdasan teknisnya—untuk membongkar kebenaran sebelum semuanya meledak. 

Artemis terasa nyata: ada pasar gelap, polisi korup, restoran, komunitas ekspatriat, sampai sistem daur ulang udara yang rumit. Membacanya seperti jalan-jalan ke kota futuristik yang kumuh tapi menawan. 

Plot yang cepat dan penuh surprise. Setiap kali Jazz punya rencana, pasti sesuatu gagal—dan dia harus berpikir ulang dengan cepat. Ini bikin buku susah dijelasin tapi bikin nagih. Seperti The Martian, penulis ngejelasin teknologi bulan dengan sangat detail tapi tetap mudah dipahami. Kalian klo baca buku ini akan belajar bagaimana peluru bekerja di gravitasi rendah, cara membobol kubah bertekanan, bahkan proses metalurgi—tanpa rasa bosan. 

Minus sedikit dalam buku ini untuk klimaks yang terasa terlalu cepat dan karakter pendukung yang kurang tergali. 

Sekian. 😃🌜 

Baru sebulan jadi Kader Desa, Tapi rasanya udah berasa punya keluarga baru

 
It's me 

Halo semuanya! Bulan ini aku punya cerita seru ni. Yap, aku resmi jadi kader desa hehehe. Rasanya campur aduk, tapi paling dominan tuh seneng banget. Kayak ada energi positif yang mengalir setiap hari. Pokoknya semangat melayani itu nggak keputus-putus, apalagi kalau sudah bertemu balita, ibu hamil, sama para lansia. 

Pengalaman pertamaku pas posyandu di awal bulan ini, lucu sekaligus haru. Ada balita yang awwalnya nangis keras saat mau ditimbang. Aku coba ajak main jari sambil ngobrol kecil, eh lama-lama diem dan malah mau tersenyum. Begitu timbangannya naik ibunya sampai mengehla napas lega. Hati kecilku langsung bilang, "ini benar-benar tempatku." 

Nggak cuma itu, aku juga ketemu sama seorang nenek lansia yang tangannya gemeteran pas mau periksa tensi. Aku gercep aja pegang tangannya pelan sambil bilang, "santai ya, Nek." Nenek itu lalu bilang dengan suara lirihnya, "makasih ya, cu. Masih ada yang perhatian sama orang tua." Saat itu aku hampir nangis. Tapi aku tahan, karena aku ingin tetap tegar buat mereka. 

Jujur jadi kader desa itu ngak selalu muddah. Tapi setiap senyum dari balita, setiap "terima kasih" dari ibuhamil, dan setiap genggaman tangan dari lansia, bikin semua rasa lelah lenyap seketika. 

Kenapa tulisan ini penting dan positif buatku (dan mungkin buat kamu)? 

Karena dengan nulis begini, aku jadi ingat lagi kenapa aku memulai semua ini. Tulisan ini bisa jadi pengingat di saat nanti mungkin ada hari-hari yang melelahkan. Selain itu, siapa tahu cerita santai ini bisa menginspirasi teman-teman yang lain untuk ikut peduli sama lingkungan sekitar. Jadi kader desa itu bukan cuma soal kerja, tapi soal bahagia bareng warga. 


Terima kasih sudah membaca ceritaku. Yuk, tetap semangat berbagi kebaikan, sekecil apa pun itu.