Senin, 04 Mei 2026

Review buku Madonna in a Fur Coat — Sabahattin Ali

 
Photo by me 

Madonna in a Fur Coat – Sabahattin Ali


Rating ⭐⭐⭐⭐⭐


Premisnya: 

Seorang pegawai kantoran di Ankara yang pendiam dan terlihat "kosong" ternyata menyimpan buku harian. Begitu dibuka, isinya adalah kisah masa mudanya di Berlin: jatuh cinta pada seorang pelukis wanita dingin yang dijuluki Madonna in a Fur Coat. Sebuah cinta yang begitu dalam, tapi hancur hanya karena sama-sama menduga yang terburuk tanpa pernah bertanya.


Ulasannya: 

Buku ini tipis, hanya sekitar 200 halaman. Tapi jangan salah, selesai membaca, rasanya seperti habis ditampar perlahan tapi sakitnya minta ampun. 😭

Awal cerita agak membingungkan karena ada dua tokoh "aku": satu adalah rekan kerja Raif yang tidak disebut namanya, dan satu lagi adalah Raif sendiri melalui buku hariannya. Tapi begitu masuk ke bagian Berlin, ceritanya langsung terasa dekat dan menyentuh.

Kisahnya tentang Raif, seorang pria pemalu yang seumur hidup merasa tidak percaya diri. Saat muda, dia dikirim belajar ke Berlin di tahun 1920-an. Di sana, dia jatuh hati pada sebuah lukisan wanita berjubah bulu. Kemudian dia bertemu langsung dengan pelukisnya, seorang wanita bernama Maria Puder. Maria terlihat dingin, jutek, dan galak. Tapi perlahan-lahan mereka saling mendekat, saling membuka luka, dan akhirnya benar-benar saling mencintai. Dalam banget.

Tapi ada masalah besar: mereka sama-sama salah paham. Dan kesalahan paham itu perlahan meracuni hubungan mereka hingga hancur berkeping-keping.


Kenapa Mereka Sampai Salah Paham?


1. Raif terlalu takut ditolak

Dari awal dia sudah minder berat. Dia berpikir, "Aku tidak pantas untuknya." Jadi setiap Maria bersikap sedikit dingin, langsung dia menyimpulkan bahwa Maria tidak suka padanya. Padahal saat itu Maria sedang menghadapi banyak masalah sendiri.

2. Maria memiliki luka masa lalu

Dia sering didekati laki-laki yang hanya menginginkan fisiknya. Akibatnya, dia membangun tembok yang sangat tebal. Kadang Raif yang tulus pun ikut terkena imbasnya. Maria sering bersikap seperti, "Jangan coba-coba mendekatiku," padahal hatinya juga sudah sayang.

3. Mereka tidak pernah berkomunikasi dengan jujur

Ini yang paling menyakitkan. Sama-sama saling sayang, tapi tidak pernah duduk bersama dan berkata jujur, "Aku sayang kamu." Mereka lebih banyak membaca raut wajah, menebak-nebak perasaan, lalu mengambil kesimpulan sendiri. Dan kesimpulan mereka semuanya salah.

4. Raif langsung menutup diri saat terluka

Ketika surat-surat dari Maria tiba-tiba berhenti datang, Raif sama sekali tidak berusaha mencari tahu alasannya. Dia langsung menyerah. Dia berkata dalam hati, "Sudah, dia pasti sudah melupakanku. Dia tidak benar-benar sayang." Padahal jika dia mau berusaha sedikit saja... mungkin ceritanya akan sangat berbeda.

5. Maria kelelahan menghadapi hidup

Dia hidup sendirian di negeri orang tanpa keluarga. Dia sakit-sakitan. Dia harus berjuang keras setiap hari. Mungkin pada titik tertentu, dia terlalu lelah untuk terus mempertahankan komunikasi jarak jauh dengan Raif. Bukan karena dia tidak sayang. Tapi karena dia benar-benar kehabisan tenaga.


Sedikit Spoiler yang buat Penasaran


· Di akhir, kamu akan mengetahui sebesar apa cinta Maria kepada Raif. Jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan. 😭

· Dan kamu pasti akan merasa kesal sekaligus sedih kepada Raif, mengapa dia tidak pernah berusaha mencari tahu kebenaran.

· Siapkan tisu dari sekarang. Bakalan bawang banget. 


Kesimpulan yang bikin merenung 

Buku ini seperti pelajaran berharga bagi kita semua:

Karena jika kamu menyayangi seseorang, katakanlah. Jangan hanya menebak-nebak. Jangan biarkan gengsi menghalangi. Jangan langsung mengambil kesimpulan terburuk sebelum berusaha mencari tahu kebenarannya.

Karena kadang, cinta sejati itu benar-benar ada. Tapi kita sendiri yang menyia-nyiakannya karena terlalu takut terluka dan terlalu cepat berprasangka.


💌 Pesan Terakhir

Jangan baca buku ini saat sedang galau. Nanti malah tambah galau. 😭

Tapi jika kalian sedang ingin membaca sesuatu yang tipis namun terasa berat di hati, yang membuat kalian menangis sekaligus mengajak kalian merenung... Madonna in a Fur Coat adalah pilihan yang tepat.

Selamat membaca. 😭🙏🏻💔

Selasa, 28 April 2026

Satine Book Review on X 15/04/26


Finished! 

3/5⭐️ 

Kadang, orang yg paling kita cintai bukan yang paling bisa menyembuhkan kita. Tapi yang paling bersedia duduk diam di samping kita, meskipun kita belum sembuh. 

Sbnrnya premisnya menarik, tpi dari pertengahan smpe ke ending knpa begitu. Agak kecewa sih dikit. 

Yg gw tandai di buku ini adalah soal kontraknya itu bukan gimmick. Ini kritik pedas.

Awalnya mikir kontrak "teman kencan" itu hanya cara edgy untuk mempertemukan dua org. Tapi semakin baca, semakin sadar: kontrak itu adalah sindiran terhadap cara kita berkencan skrg. Ghosting. 

Situationship. Tanpa komitmen. Tanpa drama. Ya, kita ingin koneksi tanpa risiko sakit hati. Tapi Satine membuktikan: perasaan tidak pernah bisa dikontrak. Cinta tetap datang meskipun kita sudah memasang pagar beton sekalipun. (Anjay) 

Jujur, alurnya sering banget loncat-loncat waktu. Flashback ke 10 tahun lalu, lalu ke 3 bulan lalu, lalu ke minggu depan, balik lagi. Gw harus baca dua kali beberapa bab biar paham timeline-nya. Yapp ini bukan bacaan sambil lalu. Kalian harus fokus bacanya. 

Juga, beberapa monolog terasa terlalu panjang. Ada kalanya Satine atau Ash 'berkata-kata' dalam hati sampai satu halaman penuh. Cantik sih, tapi kadang bikin ingin teriak, "Ya udah ngomong langsung sama dia, jangan dipendem ih!" (Nada greget) wkwkwk. 

Ya untuk endingnya lumayan kebantu, walau ekspektasi gw pengennya sih itu ada penyelesaian karakternya di masa lalu tapi welldone udh gk penasaran lagi sama kisah Satine dan Ash hehehe.

Senin, 27 April 2026

Waktu yang Terjual

 



Mentari masih setinggi tiang bendera saat Kirana melangkah keluar dari apartemen susunnya. Langit Jakarta cerah, anehnya. Biasanya polutan membuatnya seperti susu cokelat encer, tapi hari ini biru pucat. Kirana tidak punya waktu untuk menikmatinya.

Seperti biasa, ia menuju warung kopi langganan di tikungan gang. Bang Oki sudah menyiapkan es kopi susu tanpa ia pesan. "Lembur lagi, Kir?" tanya Bang Oki sambil melipat koran bekas.

"Iya, Ki. Deadline laporan keuangan klien."

Kirana duduk di kursi plastik hijau, menyeruput kopinya cepat-cepat. Jarum jam di ponsel menunjukkan pukul 07.15. Ia harus sampai kantor sebelum 08.00. Dua puluh menit perjalanan dengan motor, lima belas menit jika nekat. Masih cukup.

Tapi kemudian ia melihatnya.

Sebuah stan kayu kecil berdiri di sudut gang yang biasanya kosong. Papan kayu bertuliskan: Tukar Waktu Anda dengan Uang di Sini. Proses Cepat, Halal, Aman.

Kirana mengerjapkan mata. Stan itu tidak mungkin ada kemarin. Tulisannya mengilap, seakan baru saja dicat.

"Bang, itu kapan munculnya?" tanya Kirana sambil mengacungkan ibu jari ke belakang.

Bang Oki mengangkat bahu. "Baru. Tadi subuh udah ada. Katanya sih startup baru."

"Startup?"

"Iya. Konsepnya gitu katanya. Kau jual waktu hidupmu—bukan buang-buang waktu, tapi beneran mengurangi umur. Dikasih uang. Banyak yang ikut tadi pagi. Mbak Atun jual tiga tahun dapat motor baru. Pak RT jual lima tahun buat biaya haji anaknya."

Kirana hampir tersedak. "Itu gila."

"Zaman sekarang, Kir. Mana ada yang gratis?" Bang Oki tersenyum tipis. "Nanti malam stan itu pindah ke daerah lain. Katanya sistemnya kayak flash sale."


Skuter matik Kirana melaju, tapi pikirannya tetap di stan kayu itu. Setengah jam kemudian ia sudah duduk di kursi kerjanya, memandangi tumpukan spreadsheet. Gajinya pas-pasan. Kontrakan naik bulan depan. Adiknya butuh uang sekolah dalam dua minggu.

Di layar ponsel, iklan stan itu muncul lagi dengan tagar #WaktuAdalahUang. Selebgram dengan jutaan pengikut sudah mempromosikannya. Kirana melihat seorang aktris menyatakan dengan bangga: Aku jual 10 tahun. Beli rumah impian untuk mama!

Tiga jam kemudian, lembur lagi. Teori akuntansi tidak berubah, tapi angka-angka mulai kabur di depan mata Kirana. Secangkir kopi kelima. Kantor mulai sepi. Jam menunjukkan pukul 22.00.

Ia ingat stan itu akan tutup tengah malam.


Skuter matiknya tanpa sadar membawanya kembali ke gang. Stan kayu itu masih ada, diterangi lampu bohlam kuning. Antreannya tidak panjang—hanya tiga orang. Seorang pria muda dengan kemeja lusuh tampak keluar sambil memegang amplop cokelat tebal. Matanya kosong, tapi bibirnya tersenyum.

"Masuk, Mbak," sapa petugas di balik stan. Perempuan muda, rambut diikat rapi, seragam kerah putih. Terlalu rapi untuk sebuah stan pinggir jalan. "Mau tanya-tanya dulu atau langsung?"

"Tanya," jawab Kirana, tenggorokannya tercekat.

"Sederhana. Kami beli waktu Anda. Kami catat, Anda masih punya sisa umur—menurut data medis dan genetik—sekitar 54 tahun lagi. Mau jual berapa? Minimal satu tahun, maksimal tiga puluh tahun. Bayar tunai, bebas pajak. Setelah transaksi, otomatis tanggal kematian Anda akan maju sesuai jumlah yang dijual. Jantung berhenti, tapi jujur saja: Anda tidak akan merasakan apa-apa. Hanya lompatan waktu."

"Kedengarannya seperti bunuh diri perlahan."

Petugas itu tersenyum. "Bunuh diri tidak menghasilkan uang, Mbak. Ini investasi. Uangnya bisa untuk keluarga."

Kirana membayangkan ibunya di kampung, yang setiap bulan telepon hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan. Adiknya yang lulus SMA dan ingin kuliah arsitektur karena suka menggambar rumah-rumah indah.

"Saya jual... tiga tahun."

Petugas mengangguk. Papan sentuh dikeluarkan, sidik jari Kirana dipindai. Beberapa data muncul: denyut jantung, tekanan darah, usia biologis. Kirana melihat angka sisa umurnya: 54 tahun 2 bulan 8 hari. Setelah transaksi, itu akan menjadi 51 tahun 2 bulan 8 hari.

"Tiga tahun," ulang petugas. "Satu tahun dihargai seratus dua puluh juta. Jadi total tiga ratus enam puluh juta. Setuju?"

Angka itu lima kali lipat tabungan Kirana saat ini.

"Setuju," ucapnya, lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Ada sensasi aneh. Seperti ketika berlari terlalu kencang dan jantung berdebar tidak karuan, tapi tidak menyakitkan. Kemudian amplop cokelat disodorkan. Kirana tidak memeriksa isinya. Ia tahu jumlahnya pas. Teknologi ini terlalu sempurna untuk salah.

Di luar stan, ia berdiri sebentar. Langit malam Jakarta sama seperti biasanya. Lampu-lampu kota berkilau. Kirana merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya, tapi ia tidak bisa memberinya nama. Mungkin itu tiga tahun yang tadi masih ia miliki.


Setahun kemudian, Kirana lulus seleksi manajemen trainee di bank asing. Gajinya naik tiga kali lipat. Adiknya sudah semester dua di fakultas arsitektur favorit. Ibunya bisa berhenti berjualan gorengan karena Kirana rutin mengirim uang.

Tiga tahun setelah transaksi, di pagi yang sama ketika ia dulu menemukan stan kayu itu, Kirana terbangun tetapi dadanya terasa sangat berat. Ia jatuh di kamar mandinya. Wajahnya menghantam wastafel keramik, tetapi ia tidak merasakan sakit.


Di kamar itu, pukul 07.15, tepat tiga tahun setelah ia menjual sebagian hidupnya, jantung Kirana berhenti.

Dokter yang memeriksa kematiannya kemudian menulis: Penyebab: gagal jantung akut. Tercatat dalam rekam medis bahwa pasien dalam kondisi sehat tanpa riwayat penyakit kardiovaskular.

Bang Oki, yang mendengar kabar itu sore harinya, hanya menggeleng. Ia ingat pembicaraan mereka tiga tahun lalu di warung kopinya.


Di stan yang sudah tidak ada lagi di gang itu, di suatu tempat di server pusat perusahaan rintisan bernama Tempo—yang kantornya berlokasi di lantai 50 gedung pusat bisnis Jakarta—sebuah data terhapus secara otomatis: Kirana Wulandari, 26 tahun, sisa umur setelah transaksi: 0 hari. Status: Lunas.

Di aplikasi Tempo yang diunduh jutaan orang, notifikasi muncul untuk pengguna lain: Flash sale Season 4 akan segera tiba. Bersiaplah menukar hari esok Anda dengan hari ini.

Di luar sana, langit Jakarta kembali biru pucat. Seseorang sedang terburu-buru menuju kantor, berpikir tentang tagihan, mimpi, dan harga yang bersedia ia bayar.
 

Minggu, 13 Juli 2025

Kadang Aku Bertanya, Apa Aku Benar-Benar Bagian dari Mereka?

 


Aku gak pernah benar-benar berharap banyak. Cuma ingin sekadar diajak duduk bareng, makan bersama, atau sekadar ditanya, "Kamu mau ikut gak?" Tapi gak pernah ada.

Setiap kali mereka berkumpul, tertawa ramai, aku cuma jadi penonton. Diam di sudut kamar, pura-pura gak peduli padahal hati ini diam-diam menunggu... siapa tahu, ada yang ingat aku di sini.

Tapi sampai sekarang, gak pernah ada yang ingat. Gak pernah ada yang ngajak.

Lama-lama aku jadi mikir, apa aku ini sebegitu gak pentingnya? Atau mungkin... aku memang beban? Gak dianggap ada karena kehadiranku cuma bikin sumpek?

Lucunya, mereka sering bilang, "Kenapa di kamar terus? Gak mau gabung sama keluarga?" Padahal kapan aku pernah dikasih alasan buat merasa belong? Kapan aku pernah ditarik, dibilang, "Ayo makan bareng."

Aku muak sama kalimat klise itu. "Keluarga tetap keluarga." Omong kosong. Kalau keluarga aja gak pernah bikin aku merasa diterima, masih layak gak sih aku berharap?

Aku gak butuh banyak. Cuma pengakuan kecil bahwa aku ada. Bahwa aku bukan sekadar beban yang mereka tutupi dengan basa-basi.

Tapi sepertinya, harapan itu memang harus aku kubur sendiri.

Kamis, 05 Juni 2025

Review Buku SEGALA KEKASIH TENGAH MALAM 30/04/25

 

 

Honestly... kurang sreg di awal karena udah menduga dg gaya penulisannya Mieko Kawakami. Karena ceritanya yg slow banget, gk ada konflik besar atau drama yg heboh. Tapi, justru itulah banyak makna yg terselip. 

Mengisahkan Fuyuko seorang perempuan yang hidupnya bener2 sepi. Gak banyak interaksi, kerjaannya nyoreksi naskah, jalan sendirian, bahkan ulang tahun sendirian.  

Sebenarnya, Fuyuko sendiri kayak nyari tempat buat bisa ngerasa dihargai, cuma masalahnya dunia sekitar gak kasih ruang buat dia. 
Dan dia sampai ketemu dg beberapa orang, seperti Hijiri yg ngasih nasihat yg gk selalu bisa dipahami, dan Mitsutsuka yg selalu ada, meski bukan dg cara yg kita harapkan. Dan buku ini gk kasih solusi, gk ada happy ending ala film. 

Tapi, buku ini ngajarin soal jujur. Tentang betapa sulitnya nyari makna hidup di tengah rutinitas. Tentang keinginan u/ berubah, tapi gk tau mulai dari mana. Buku ini bukan u/ semua orang. Tapi, bagi yg pernah merasa asing di tengah keramaian, atau mempertanyakan makna hidup di antara rutinitas yg menjemukan, buku ini cocok buat nemenin kalian. 

Beberapa kutipan yang nyangkut banget: 


“Aku tidak takut sendirian. Aku takut menyadari bahwa aku sendirian.”

“Mungkin aku hanya ingin seseorang melihatku. Bukan karena aku istimewa. Tapi karena aku ada.” 


https://app.thestorygraph.com/reviews/df941692-521a-4765-9e29-460fb10b36fa 

Review Buku Giie dan surat-surat yang Tersembunyi - Serie TEMPO 11/04/25

 

 

Buku ini membuat gw ngerasa seolah duduk di samping Gie, mendengarnya bercerita tentang dunia yang sering tak adil, cinta yang tak terucap, dan kesendirian yang menyayat.

Surat-suratnya bukan sekadar dokumen sejarah atau pemikiran politik—tapi juga potongan jiwa seorang manusia yang hidup dengan jujur. Gie bukan hanya seorang aktivis atau intelektual, ia juga pemuda yang rindu, takut, bahkan kadang ingin menyerah.

Membaca ini adalah pengalaman yang personal. Menyentuh, meresap, dan meninggalkan bekas.

Cocok untuk kalian yang sedang mencari bacaan reflektif, penuh renungan, dan ingin melihat sisi lain dari seorang tokoh besar. 


Review Buku RANAH PUSAKA - Nellaneva 12/04/25

 


“Pusaka bukan cuma tentang benda lama, tapi luka-luka yang diwariskan diam-diam.”


Ranah Pusaka dari awal judulnya aja bikin aku penasaran. Kirain bakal ada nuansa petualangan mencari pusaka yang penuh misteri—semacam rahasia masa lalu yang terpendam dan akhirnya terbongkar lewat petualangan. Tapi ternyata, arah ceritanya justru lebih dalam: pencarian terhadap diri sendiri.


Cerita berpusat pada empat anak kos—Kali, Badran, Ilyas, dan Arka. Arka sebagai pemilik kos bikin semacam “deal aneh” ke teman-temannya: kalau mereka bisa nemuin pusaka yang katanya tersembunyi di dalam rumah, sewa kos-nya digratiskan. Tapi alih-alih sibuk gali-gali lantai atau bongkar plafon, mereka malah ‘digiring’ untuk menghadapi warisan luka masing-masing.


Hal yang paling aku suka dari novel ini adalah karakterisasinya yang kuat. Kali, misalnya. Sinis, skeptis, kayak orang yang ogah hidup—tapi ternyata dia menyimpan banyak hal yang belum pernah benar-benar dia hadapi. Interaksi mereka terasa hangat, kadang absurd, tapi nyata. Kayak sahabatmu yang tukang roasting tapi selalu ada saat kamu hancur.


Gaya bahasa Nellaneva juga halus banget. Nggak sok puitis tapi tetap bikin mikir. Banyak kalimat yang aku tandai karena terasa “ngena” banget, terutama soal keluarga dan bagaimana trauma bisa diwariskan dari generasi ke generasi tanpa sadar.


Cuma ya... kalau kamu ngarep akan ada teka-teki yang bikin deg-degan soal pusaka itu, mungkin bakal sedikit kecewa. Soalnya unsur “pencarian” di sini lebih metaforis ketimbang literal. Ending-nya pun nggak dramatis, tapi cukup memuaskan karena menyisakan rasa hangat dan reflektif.


Kesimpulan:

Ranah Pusaka bukan tentang mencari harta karun, tapi tentang mengenali “warisan batin” yang kita bawa selama ini. Cerita yang sederhana, tapi punya kedalaman. Cocok banget buat kamu yang suka novel slice-of-life dengan sentuhan emosi yang subtle tapi menghantam. 


https://app.thestorygraph.com/reviews/ce58a6a8-e120-405b-a05f-635f07cb07b7?redirect=true