Finished!
3/5⭐️
Kadang, orang yg paling kita cintai bukan yang paling bisa menyembuhkan kita. Tapi yang paling bersedia duduk diam di samping kita, meskipun kita belum sembuh.
Sbnrnya premisnya menarik, tpi dari pertengahan smpe ke ending knpa begitu. Agak kecewa sih dikit.
Yg gw tandai di buku ini adalah soal kontraknya itu bukan gimmick. Ini kritik pedas.
Awalnya mikir kontrak "teman kencan" itu hanya cara edgy untuk mempertemukan dua org. Tapi semakin baca, semakin sadar: kontrak itu adalah sindiran terhadap cara kita berkencan skrg. Ghosting.
Situationship. Tanpa komitmen. Tanpa drama. Ya, kita ingin koneksi tanpa risiko sakit hati. Tapi Satine membuktikan: perasaan tidak pernah bisa dikontrak. Cinta tetap datang meskipun kita sudah memasang pagar beton sekalipun. (Anjay)
Jujur, alurnya sering banget loncat-loncat waktu. Flashback ke 10 tahun lalu, lalu ke 3 bulan lalu, lalu ke minggu depan, balik lagi. Gw harus baca dua kali beberapa bab biar paham timeline-nya. Yapp ini bukan bacaan sambil lalu. Kalian harus fokus bacanya.
Juga, beberapa monolog terasa terlalu panjang. Ada kalanya Satine atau Ash 'berkata-kata' dalam hati sampai satu halaman penuh. Cantik sih, tapi kadang bikin ingin teriak, "Ya udah ngomong langsung sama dia, jangan dipendem ih!" (Nada greget) wkwkwk.
Ya untuk endingnya lumayan kebantu, walau ekspektasi gw pengennya sih itu ada penyelesaian karakternya di masa lalu tapi welldone udh gk penasaran lagi sama kisah Satine dan Ash hehehe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar